Ketupat Gorontalo
Sampe Disorot Bupati, Ternyata Kebiasaan Ini yang Bikin Tradisi Ketupat Gorontalo Mulai Melenceng
Ia menilai, tradisi tahunan yang diwariskan para leluhur itu mulai "melenceng" akibat berbagai kebiasaan baru yang muncul dalam perayaannya.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BUPATI-GORONTALO-Bupati-H-Sofyan-Puhi-menghadiri-Doa-Bado-Ketupat.jpg)
Tahukah kamu sejak kapan tradisi ini mulai dirayakan di Gorontalo?
Dalam sebuah jurnal berjudul "Nilai Pendidikan dalam Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Suku Jawa Tondano di Gorontalo", penulis Muh Arif dan Melki Y.
Lasantu mencatat bahwa Lebaran Ketupat mulai tumbuh di Gorontalo sejak migrasi masyarakat Jawa-Tondano (Jaton) pada awal 1900-an.
Mereka datang dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dan menetap di sejumlah wilayah di Kabupaten Gorontalo.
Saat ini, keturunan Jaton tersebar di empat desa utama: Kaliyoso di Kecamatan Dungaliyo, Roksonegoro di Kecamatan Tibawa, Mulyonegoro di Kecamatan Pulubala, dan Yosonegoro di Kecamatan Limboto Barat.
Keempat desa ini menjadi pusat-pusat budaya yang terus menjaga napas tradisi Lebaran Ketupat.
Perayaan ini biasanya diisi dengan penyajian beragam makanan berbahan dasar beras, seperti ketupat, lontong, soto, coto makassar, hingga makanan khas lainnya seperti nasi bulu (nasi lemak dimasak dalam bambu), dodol, kue mendut, serabi, koa, serta olahan daging ayam dan sapi.
Sebelum dibagikan kepada masyarakat, seluruh makanan tersebut terlebih dahulu didoakan di masjid, sebagai bentuk syukur dan berkah.
Tradisi ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Gorontalo, tetapi juga menarik perhatian warga pendatang dari berbagai daerah seperti Manado, Bitung, Palu, hingga Makassar, yang turut meramaikan suasana di kampung-kampung Jaton.
Sejarah mencatat bahwa komunitas Jaton merupakan keturunan Kiai Modjo, seorang tokoh Islam yang pada tahun 1829 diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke tepi Danau Tondano, Sulawesi Utara.
Wilayah pengasingan itu kini dikenal sebagai bagian dari Minahasa, yang kemudian menjadi asal-usul komunitas Jaton yang menyebar hingga ke Gorontalo.
Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menyebut bahwa tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo tidak bisa dipisahkan dari eksistensi Kampung Jawa.
Meski awalnya merupakan budaya yang sudah hidup di banyak komunitas Muslim di Nusantara, di Gorontalo tradisi ini menemukan bentuk khasnya sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal.
“Lebaran ketupat mengajarkan kerendahan hati dan semangat hidup bermasyarakat. Ia hadir sebagai pengikat sosial yang kuat antarwarga,” ujarnya.(*)