Senin, 9 Maret 2026

Ketupat Gorontalo

Sampe Disorot Bupati, Ternyata Kebiasaan Ini yang Bikin Tradisi Ketupat Gorontalo Mulai Melenceng

Ia menilai, tradisi tahunan yang diwariskan para leluhur itu mulai "melenceng" akibat berbagai kebiasaan baru yang muncul dalam perayaannya.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Sampe Disorot Bupati, Ternyata Kebiasaan Ini yang Bikin Tradisi Ketupat Gorontalo Mulai Melenceng
FB: Irfan Mohamad
BUPATI GORONTALO -- Bupati H. Sofyan Puhi menghadiri Doa Ba'do Ketupat 1446 H di Masjid Al-Mutaqin. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Perayaan Lebaran Ketupat di Kabupaten Gorontalo tahun ini disoroti Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi

Ia menilai, tradisi tahunan yang diwariskan para leluhur itu mulai "melenceng" akibat berbagai kebiasaan baru yang muncul dalam perayaannya.

Hal ini disampaikan Sofyan Puhi saat menghadiri acara doa bersama momentum Lebaran Ketupat di Masjid Al-Muttaqin, Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Senin (7/4/2025).

Baca juga: Iring-Iringan Perahu Hias Keliling Perairan Kota Gorontalo saat Lebaran Ketupat 2025

Menurut Sofyan, berbagai tantangan zaman modern membuat perayaan ketupat kini diwarnai banyak variasi.

Namun beberapa variasi itu tak sepenuhnya sejalan dengan adat istiadat dan nilai-nilai keislaman.

Salah satunya adalah rangkaian acara musik yang dinilainya kurang merepresentasikan nuansa religi.

“(Ada) kegiatan-kegiatan yang sedikit melenceng dari adat istiadat kita, seperti kegiatan musik tidak religi, non Islami,” ujar Sofyan.

Ia menegaskan, tradisi Lebaran Ketupat sudah ada sejak zaman para leluhur, dan harus tetap dijaga keasliannya.

Menurutnya, pembaruan boleh saja dilakukan, tetapi harus tetap berlandaskan nilai religius yang menjadi roh dari tradisi tersebut.

“Bukan berarti kita tidak mengakomodir kepentingan generasi kekinian. Tapi, kita kembalikan pada rohnya. Musik bisa, tapi harus ada nuansa religi,” lanjut Sofyan.

Di sisi lain, perayaan ketupat tahun ini memang terasa berbeda.

Selain doa bersama, kegiatan juga diramaikan dengan berbagai lomba rakyat, termasuk karapan sapi di arena pacuan Desa Yosonegoro, yang bahkan sempat diwarnai insiden kecil saat salah satu peserta terjatuh.

Acara ini turut dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli, serta jajaran Forkopimda.

Bupati Sofyan menekankan bahwa ke depan, perayaan tradisi seperti ketupat harus terus dilestarikan, namun dengan penataan yang lebih baik.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat turut menjaga warisan budaya ini agar tidak kehilangan makna utamanya.

Tahukah kamu sejak kapan tradisi ini mulai dirayakan di Gorontalo?

Dalam sebuah jurnal berjudul "Nilai Pendidikan dalam Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Suku Jawa Tondano di Gorontalo", penulis Muh Arif dan Melki Y.

Lasantu mencatat bahwa Lebaran Ketupat mulai tumbuh di Gorontalo sejak migrasi masyarakat Jawa-Tondano (Jaton) pada awal 1900-an.

Mereka datang dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dan menetap di sejumlah wilayah di Kabupaten Gorontalo.

Saat ini, keturunan Jaton tersebar di empat desa utama: Kaliyoso di Kecamatan Dungaliyo, Roksonegoro di Kecamatan Tibawa, Mulyonegoro di Kecamatan Pulubala, dan Yosonegoro di Kecamatan Limboto Barat.

Keempat desa ini menjadi pusat-pusat budaya yang terus menjaga napas tradisi Lebaran Ketupat.

Perayaan ini biasanya diisi dengan penyajian beragam makanan berbahan dasar beras, seperti ketupat, lontong, soto, coto makassar, hingga makanan khas lainnya seperti nasi bulu (nasi lemak dimasak dalam bambu), dodol, kue mendut, serabi, koa, serta olahan daging ayam dan sapi.

Sebelum dibagikan kepada masyarakat, seluruh makanan tersebut terlebih dahulu didoakan di masjid, sebagai bentuk syukur dan berkah.

Tradisi ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Gorontalo, tetapi juga menarik perhatian warga pendatang dari berbagai daerah seperti Manado, Bitung, Palu, hingga Makassar, yang turut meramaikan suasana di kampung-kampung Jaton.

Sejarah mencatat bahwa komunitas Jaton merupakan keturunan Kiai Modjo, seorang tokoh Islam yang pada tahun 1829 diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke tepi Danau Tondano, Sulawesi Utara.

Wilayah pengasingan itu kini dikenal sebagai bagian dari Minahasa, yang kemudian menjadi asal-usul komunitas Jaton yang menyebar hingga ke Gorontalo.

Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menyebut bahwa tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo tidak bisa dipisahkan dari eksistensi Kampung Jawa.

Meski awalnya merupakan budaya yang sudah hidup di banyak komunitas Muslim di Nusantara, di Gorontalo tradisi ini menemukan bentuk khasnya sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal.

“Lebaran ketupat mengajarkan kerendahan hati dan semangat hidup bermasyarakat. Ia hadir sebagai pengikat sosial yang kuat antarwarga,” ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved