Kamis, 12 Maret 2026

Berita Internasional

Pejabat Trump Tak Sengaja Tambahkan Jurnalis ke Grup Chat, Rencana Perang Terbongkar

Namun, kejadian ini kembali menyoroti potensi kebocoran informasi strategis di tingkat pemerintahan tinggi AS.(*)

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Pejabat Trump Tak Sengaja Tambahkan Jurnalis ke Grup Chat, Rencana Perang Terbongkar
Getty
ILUSTRASI -- Seorang tentara di medan perang. Baru-baru ini serangan Amerika bocor ke jurnalis. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Pejabat tinggi pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump secara tidak sengaja memasukkan Jeffrey Goldberg, Pemimpin Redaksi majalah The Atlantic, ke dalam grup percakapan di aplikasi Signal.

Dalam grup tersebut, mereka membahas rencana serangan militer AS di Yaman, seperti yang dilaporkan The Atlantic dalam artikel yang dipublikasikan pada Senin (25/3/2025).

Menurut laporan tersebut, serangan udara AS yang menargetkan pemberontak Houthi di Yaman berlangsung hanya dua jam setelah Goldberg menerima rincian serangan pada 15 Maret.

"Namun, saya sudah mengetahui dua jam sebelum bom pertama meledak bahwa serangan ini akan terjadi," kata dia. 

Menurutnya, informasi itu diberikan oleh Pete Hegseth, Menteri Pertahanan, terkait rencana perang pada pukul 11.44 pagi.

"Rencana tersebut mencakup informasi detail mengenai persenjataan, target, dan waktu serangan," ungkap Goldberg dalam artikelnya yang berjudul 'The Trump Administration Accidentally Texted Me Its War Plans'.

Bagaimana Goldberg Bisa Mendapatkan Pesan Ini?

Goldberg mengungkapkan bahwa dirinya dimasukkan ke dalam grup Signal oleh seseorang yang mengaku sebagai Penasihat Keamanan Nasional Trump, Michael Waltz.

Grup tersebut juga beranggotakan Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Tulsi Gabbard yang menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional Trump.

Goldberg menerima undangan dari Waltz dan awalnya mengira bahwa ini adalah sebuah kesalahan atau lelucon.

Namun, setelah serangan benar-benar terjadi, ia menyadari bahwa informasi yang diterimanya adalah nyata.

"Para pemimpin keamanan nasional AS memasukkan saya dalam grup chat mengenai serangan militer yang akan datang di Yaman. Awalnya saya tidak percaya, hingga akhirnya bom mulai berjatuhan," tulisnya.

Konfirmasi dan Tanggapan Pejabat AS

Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Brian Hughes, mengakui bahwa pesan yang dilaporkan oleh The Atlantic tampaknya memang asli.

Ia juga menyatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki bagaimana nomor seorang jurnalis bisa masuk dalam grup tersebut.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengecam Goldberg dengan menyebutnya sebagai "jurnalis palsu yang tidak dapat dipercaya".

Ia membantah tuduhan bahwa informasi sensitif dibagikan dalam grup tersebut. 

"Tidak ada yang mengirimkan rencana perang, dan itu saja yang bisa saya katakan," tegas Hegseth dalam wawancara dengan CNBC.

Goldberg menegaskan bahwa diskusi dalam grup mencakup "detail operasional serangan ke Yaman, termasuk informasi mengenai target, jenis senjata yang akan digunakan AS, serta urutan serangan".

Ia juga memperingatkan bahwa jika informasi tersebut jatuh ke tangan musuh AS, maka dapat mengancam keselamatan personel militer dan intelijen Amerika, terutama di kawasan Timur Tengah.

Reaksi Trump

Ketika pertama kali ditanya mengenai kebocoran ini, Trump mengaku tidak mengetahui bahwa informasi sensitif telah tersebar.

"Saya tidak tahu apa-apa tentang ini. Anda baru saja memberitahu saya," ujar Trump kepada wartawan pada Senin pagi.

Namun, beberapa jam kemudian, Trump tampak menanggapi kejadian ini dengan nada bercanda dan meremehkan The Atlantic.

"Majalah itu tidak terlalu penting," ucapnya.

Dalam pernyataan resmi pada Senin malam, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Trump masih memiliki "kepercayaan penuh" terhadap Waltz dan tim keamanan nasionalnya.

Saat ini, masih belum dipastikan apakah informasi yang dibagikan dalam grup tersebut bersifat rahasia atau tidak.

Namun, kejadian ini kembali menyoroti potensi kebocoran informasi strategis di tingkat pemerintahan tinggi AS.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved