Amerika Serikat
Sosok Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS Kabinet Donald Trump, Pengkritik China
Sosok Marco Rubio Politisi Partai Republik asal Florida yang disetujui Senat AS menjadi menteri luar negeri di Kabinet Donald Trump.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Menteri-Luar-Negeri-Amerika-Serikat-Marco-Rubio-888996.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Sosok Marco Rubio Politisi Partai Republik asal Florida yang disetujui Senat AS menjadi menteri luar negeri di Kabinet Donald Trump.
Marco Rubio menerima dukungan penuh dari Senat dengan hasil pemungutan suara 99-0, dikutip dari Reuters.
Marco Rubio pengkritik terhadap komunis China dan mendukung penuh Israel.
Rubio menjadi orang pertama dalam kabinet Trump yang dikonfirmasi oleh Senat.
Pengumuman ini hanya beberapa jam setelah Trump dilantik untuk masa jabatan kedua di Gedung Putih.
Dalam sidang konfirmasinya, Rubio menekankan pentingnya Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan pada China.
Ia berjanji untuk menerapkan kebijakan luar negeri yang kuat dan berorientasi pada kepentingan nasional Amerika.
“Kehati-hatian dalam menjalankan kebijakan luar negeri bukanlah pengabaian terhadap nilai-nilai kita,” kata Rubio dalam sambutan pembukaannya di sidang tersebut, dikutip dari The Guardian.
Ia juga mengatakan akan menempatkan kepentingan nasional menjadi prioritas utama.
“Ini adalah pemahaman yang masuk akal bahwa meskipun kita tetap menjadi negara terkaya dan terkuat di Bumi, kekayaan kita tidak pernah tak terbatas. Menempatkan kepentingan nasional inti kita di atas segalanya bukanlah isolasi," tegasnya.
Rubio juga menyuarakan pandangan kontroversial terkait perang di Ukraina.
Ia menyatakan bahwa kebijakan AS seharusnya berfokus pada upaya mengakhiri konflik tersebut melalui kesepakatan yang melibatkan konsesi dari kedua belah pihak, baik Moskow maupun Kiev.
Rubio bahkan menyarankan bahwa Ukraina harus mempertimbangkan untuk melepaskan ambisinya dalam merebut kembali wilayah yang telah diambil alih oleh Rusia selama dekade terakhir.
“Tidak mungkin Rusia akan menguasai seluruh Ukraina. Orang Ukraina terlalu berani dan berjuang terlalu keras, sementara negaranya terlalu besar. Itu tidak akan terjadi,” kata Rubio.