Berita Kota Gorontalo
Sejarah Singkat GPIG Sentrum di Kota Gorontalo, Gereja Berusia 171 Tahun
Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG) Jemaat Sentrum merupakan rumah peribadatan umat Kristiani khususnya di Kota Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Gereja-Protestan-Indonesia-di-Gorontalo-GPIG-Sentrum.jpg)
Gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pengajaran.
Misionaris sering kali mendirikan sekolah-sekolah di sekitar gereja untuk mengajarkan agama Kristen, bahasa Belanda, dan nilai-nilai Barat.
Meskipun mayoritas penduduk Gorontalo memeluk Islam, kehadiran gereja ini menunjukkan adanya komunitas Kristen yang mulai terbentuk, baik dari penduduk lokal yang berpindah agama maupun dari pendatang yang bekerja untuk Belanda.'
Arsitektur Kolonial
Desain gereja mencerminkan pengaruh arsitektur kolonial Belanda, dengan struktur sederhana, menara lonceng, dan simbol salib yang dominan.
Elemen ini mencerminkan gaya bangunan khas yang dibawa oleh Belanda ke Nusantara.
Perlawanan Budaya dan Religius
Kehadiran gereja di Gorontalo pada masa kolonial dapat dilihat sebagai bagian dari upaya Belanda untuk menanamkan hegemoni budaya, namun, masyarakat Gorontalo, yang mayoritas Muslim, tetap mempertahankan identitas keislaman mereka.
Hal ini menunjukkan adanya dinamika antara pengaruh kolonial dan resistensi lokal.
Gereja sebagai Saksi Sejarah
Setelah Indonesia merdeka, gereja ini tetap menjadi bagian penting dari komunitas Kristen di Gorontalo.
Proklamasi berdirinya Sinode GPIG pada tahun 1965 menunjukkan bahwa gereja ini terus beradaptasi dengan dinamika sosial dan politik setelah masa kolonial.
Gereja GPIG Sentrum Gorontalo mencerminkan hubungan erat antara misi Kristen yang dibawa oleh kolonial Belanda dengan proses penyebaran agama di Gorontalo.
Sementara itu, Rusdin Bulumulawa, penjaga gereja menyebut GPIG Sentrum merupakan gereja tertua di Gorontalo.
"Ini dibangun tahun 1853," ungkap Rusdin.
Baca juga: Profil Joice P Sibarani, Pendeta Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo