Profil Tokoh

Profil Joice P Sibarani, Pendeta Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo

Joice P Sibarani merupakan pendeta di Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG) Bait El Kota Gorontalo.

Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Arianto
Pendeta Joice P Sibarani merupakan sosok yang ramah terhadap jemaat dan masyarakat Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Joice P Sibarani merupakan pendeta di Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG) Bait El Kota Gorontalo.

Pendeta Joice telah menunjukkan dedikasi dan keteladanan selama lebih dari dua dekade.

Wanita kelahiran Maret 1979 ini berasal dari Provinsi Lampung.

Joice terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai mantri, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Kehilangan sang ayah sejak remaja membuatnya tinggal di rumah pamannya. Ia tumbuh sebagai anak yang mandiri dan berjuang keras untuk mengejar pendidikan.

Joice mengaku, sejak kecil dirinya sudah aktif dalam kegiatan pelayanan gereja.

“Motivasinya mungkin karena dari kecil sudah ikut-ikut pelayanan di gereja jadi tumbuh kerinduan mau melayani di gereja,” ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Minggu (22/12/2024).

Setelah menyelesaikan pendidikan pendeta di Jawa, ia mulai melayani sebagai vikaris di Gorontalo pada 2003. Meskipun sempat kembali ke Jakarta pada 2009-2012, ia akhirnya menetap kembali di Gorontalo bersama suami dan dua anaknya.

Tak hanya itu, Joice memandang tugas sebagai pendeta sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

“Kenapa saya memilih menjadi hamba Tuhan? Saya mensyukuri apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup saya. Tuhan menyelamatkan masa muda saya, dan sebagai ucapan syukur, saya melayani Tuhan secara khusus,” katanya.

Ia percaya bahwa menjadi pendeta tidak hanya soal menyampaikan firman, tetapi juga memberi teladan hidup, ia juga mengungkapkan syarat menjadi pendeta. 

“Syaratnya yang pasti harus ada sekolah pendidikan pendeta terus ada panggilan untuk menjadi pemimpin, dan yang pasti menjaga hidup, menjaga attitude. Bagaimanapun, yang diajar harus selaras dengan yang diteladankan,” tegasnya.

Dalam melayani, Joice mengaku sering menemukan tantangan, baik internal maupun eksternal. Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi salah satu tantangan utama.

“Bagaimana daya tarik media sosial itu sangat besar sehingga banyak jemaat juga yang intensitas waktu dan hati mereka banyak terkuras di media sosial,” jelasnya.

Namun, tantangan ini ia sikapi sebagai peluang dengan melibatkan anak-anak muda yang memiliki keahlian di bidang teknologi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved