Human Interest Story

Bikin Terharus, Begini Perjuangan Arman Hamid Menjadi Sopir Sejak SMA

Memulai kariernya sebagai sopir saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2014, Arman menceritakan pengalamannya yang membuat banyak

|
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
DOCPR--
Sosok Arman Hamid (26) sopir mobil pick up berasal dari Desa Kopi, Kecamatan Bulango Utara, Bone Bolango, Jumat (25/10/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Kisah hidup Arman Hamid, seorang sopir mobil pick-up, penuh haru dan perjuangan yang tak terlupakan.

Memulai kariernya sebagai sopir saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2014, Arman menceritakan pengalamannya yang membuat banyak orang terharu.

"Saya mulai belajar membawa mobil waktu masih SMA," ungkap Arman saat diwawancarai di teras rumahnya, Jumat (25/10/2024).

Arman adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dengan dua adik yang masing-masing seorang perempuan dan laki-laki.

Ia tinggal di Desa Kopi, Kecamatan Bulango Utara, Bone Bolango, dan terlahir dari keluarga broken home, membuatnya merasa bertanggung jawab untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya.

Sebagai anak pertama, Arman merasa perlu menggantikan sosok ayah yang hilang.

Sebelum benar-benar bisa mengemudikan mobil, ia pernah menjadi helper atau kenek mobil milik pamannya, mengantri untuk mendapatkan bensin di Pertamina. 

“Saya jadi kenek dulu dengan om saya mengantri bensin,” kenangnya.

Lambat laun, Arman diberi kesempatan untuk mengemudikan mobil sendiri. Sejak saat itu, ia mulai menggantikan pamannya dalam mengemudikan mobil.

Pada tahun 2016, keberanian Arman meningkat, dan ia mulai mengambil mobil untuk perjalanan lebih jauh, seperti mengambil buah di luar daerah untuk dijual di Gorontalo. 

“Saat itu saya mulai mengambil buah ke Sulawesi Tengah (Sulteng),” tuturnya.

Pada tahun 2017, Arman ditawari pekerjaan oleh seorang juragan gula merah di Kecamatan Bulango Ulu.

"Selama setahun saya pindah-pindah jadi helper, kemudian 2017 saya diajak membawa mobil seorang juragan gula merah," jelasnya.

Ia bertugas mengangkut gula merah dari Bulango Ulu menuju pasar untuk dijual, dengan jadwal yang ketat.

"Saya berangkat dari rumah pukul 03.00 Wita, dan sampai di tujuan sekitar pukul 04.00 Wita. Setelah itu, saya langsung mengatur gula merah dan berangkat ke pasar sekitar pukul 05.00 Wita," jelas Arman.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved