Human Interest Story
Cerita Andi Samsudin Geluti Usaha Pisang di Gorontalo, Punya Pelanggan Luar Daerah
Di sebuah lapak sederhana di Jalan Raja Eyato, Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Andi Samsudin
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Andi-Samsudin-43-penjual-pisang.jpg)
Ringkasan Berita:
- Andi memilih meninggalkan usaha depot air minum karena tidak cocok dengan sistem "titip galon" dan beralih berjualan pisang sejak tahun 2021 karena dianggap lebih menguntungkan
- Dengan modal lapak kontrakan Rp10 juta per tahun, ia memasok berbagai jenis pisang dari Gorontalo hingga Sulawesi Utara
- Melalui usaha ini, Andi sukses menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan keempat anaknya yang menempuh jenjang SD, SMP, hingga SMA
TRIBUNGORONTALO.COM – Di sebuah lapak sederhana di Jalan Raja Eyato, Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Andi Samsudin (43) tampak sibuk menata sisir-sisir pisang yang siap dijual.
Dari tempat inilah, ia menghidupi keluarga dan membiayai sekolah keempat anaknya yang kini menempuh jenjang pendidikan berbeda.
Usaha berjualan pisang ini ia rintis sejak tahun 2021, tak lama setelah pandemi Covid-19 mereda. Sebelumnya, Andi menggeluti bisnis depot air minum.
Meski omzetnya terbilang besar, ada satu kendala yang membuatnya memutuskan untuk berhenti.
“Omzetnya besar, cuma saya tidak suka dengan sistem titip galonnya,” ujar Andi kepada TribunGorontalo.com, Minggu (1/2/2026).
Andi menjelaskan bahwa usaha depot air tersebut sudah dijalani cukup lama. Namun, karena sistem kerja yang dirasa tidak cocok, ia mantap beralih profesi. Pilihannya jatuh pada komoditas pisang.
Untuk memulai langkah baru, Andi mengontrak sebuah lapak seharga Rp10 juta per tahun. Keputusan ini bukan tanpa perhitungan matang; baginya, potensi pendapatan dari pisang justru lebih menjanjikan.
“Pisang omzetnya lebih besar,” katanya yakin.
Ia mencontohkan perhitungan sederhananya: rata-rata satu sisir pisang dibeli seharga Rp7.000 dan dijual kembali seharga Rp10.000.
Dari satu sisir saja, ia bisa meraup untung Rp3.000, bahkan lebih untuk jenis tertentu. Meski begitu, ia menekankan bahwa keuntungan sangat bergantung pada kualitas buah.
Stok pisang di lapak Andi berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Kecamatan Sumalata di Kabupaten Gorontalo Utara hingga Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan di Sulawesi Utara. Hubungan baik dengan para pemasok telah terjalin lama.
“Sudah langganan. Pasokannya fleksibel. Kalau stok habis, saya tinggal telepon,” ungkapnya.
Andi menjual beragam jenis pisang seperti gapi, ambon, kepok, hingga raja. Di antara semuanya, pisang kepok menjadi primadona karena tingginya permintaan dari para penjual pisang goreng.
Menurut Andi, puncak penjualan biasanya terjadi saat masa sekolah aktif. Sebaliknya, omzet cenderung menurun saat libur sekolah tiba.