Berita Kesehatan

4 Faktor Penyebab Obat Mahal di Indonesia Menurut BPOM

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar membeberkan faktor penyebab obat mahal di Indonesia.

Editor: Fadri Kidjab
Dok. Taruna Ikrar via TribunnewsWiki
Prof dr. Taruna Ikrar saat menyampaikan pidatonya tentang World Class University dan Disruption Era pada wisuda Universitas Malahayati di Bandar Lampung, Sabtu (22/1/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar membeberkan faktor penyebab obat mahal di Indonesia.

Sebulan pasca dilantik, Ikrar telah menemukan alasan obat di Indonesia lebih mahal daripada di luar negeri.

Diketahui, Taruna Ikrar dilantik menjadi Kepala BPOM sejka 19 Agustus 2024.

Ia diamanahkan oleh Presiden Joko Widodo untuk mencari biang kerok penyebab obat mahal di Indonesia.

Ikrar kemudian mengundang jajaran BPOM hingga perusahaan farmasi.

"Ada gabungan industri farmasi, kami undang ke BPOM untuk melihat titik masalahnya," kata Taruna Ikrar seperti dilansir dari Tribunnews.com, Sabtu (28/9/2024).

Dari situ, pihaknya menemukan empat faktor yang membuat harga obat di Indonesia mahal.

"Kami bicara harga obat ini tidak semua jenis obat."

"Ada juga yang murah sebetulnya, tetapi obat-obat yang esensial, yang spesifik itu mahal," jelas Taruna Ikrar.

Faktor pertama, dia mengatakan, obat-obat seperti obat penurun trigliserida, obat yang berhubungan dengan insulin, obat untuk diabetes, kemudian sebagian obat-obat yang berhubungan dengan kardiovaskuler, itu mahal karena bahan bakunya mayoritas berasal dari impor.

Mahalnya harga obat ini karena 94 persen bahan bakunya masih berasal dari impor.

Meski obatnya diproduksi di Indonesia, harganya tetap mahal karena biaya bahan bakunya yang tinggi.

"Ini bahan baku, belum bahan jadi."

"Kan ada bahan baku, bahan setengah jadi disebut intermediate dan terakhir bahan jadi, artinya sudah jadi kapsul baru dikirim," ujar Taruna Ikrar.

Faktor kedua adalah jumlah perusahaan produsen obat yang masih minim, sehingga produksi obat di dalam negeri tidak mencukupi.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved