Human Interest Story
Cerita Deni Abdul Wasatpel Pelabuhan Gorontalo, Ternyata Dulunya Lolos Polisi Tapi Mundur
Kini menjabat sebagai Pengawas Satuan Pelayanan (Wasatpel) di Pelabuhan Penyeberangan Ferry Gorontalo, perjalanan karier Deni jauh dari kata mulus.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Deni-Abdul-Wasatpel-Pelabuhan-Feri-Gorontalo-yang-ternyata-pernah-lolos-polisi.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Deni Abdul, pria kelahiran Gorontalo tahun 1980, memiliki kisah hidup yang penuh liku dan inspirasi.
Kini menjabat sebagai Pengawas Satuan Pelayanan (Wasatpel) di Pelabuhan Penyeberangan Ferry Gorontalo, perjalanan karier Deni jauh dari kata mulus.
Setelah menamatkan pendidikan di SMAN 3 Gorontalo pada tahun 1999, Deni memulai perjalanannya dengan bergabung sebagai siswa di pendidikan kepolisian.
"Saya ikut tes sampai lolos, lalu menjalani pendidikan," ujar Deni saat berbicara dengan TribunGorontalo.com pada Selasa (20/8/2024).
Namun, dunia kepolisian ternyata bukan jalannya. Deni hanya mampu bertahan selama dua bulan di pendidikan tersebut sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri.
Keputusan ini mengejutkan banyak orang, terutama karena ayah dan pamannya berkarier sebagai anggota Polri dan TNI.
Deni kemudian merantau ke Pulau Salakan, sebuah daerah terpencil di Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Di sana, ia memulai kehidupan barunya dengan menempuh pendidikan di salah satu universitas, mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
"Kuliah saya biaya sendiri," kenangnya.
Untuk membiayai kuliah, Deni terjun ke dunia perdagangan, mulai dari membantu menjual baju hingga akhirnya membuka usahanya sendiri.
"Awalnya cuma ikut dengan orang jualan baju, lalu saya buka usaha sendiri. Dari yang baju cuma dua bal jadi lima hingga enam bal," jelasnya.
Baju-baju yang ia jual dibelinya dari Gorontalo melalui temannya.
Ketekunan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Deni berhasil menamatkan kuliahnya tanpa bantuan dari orang tua.
Setelah meraih gelar, Deni mengabdikan dirinya sebagai guru honorer di sebuah Sekolah Dasar di Desa Luksagu, Sulawesi Tenggara, selama tujuh bulan.
Namun, panggilan kampung halaman tak bisa diabaikan. Deni kembali ke Gorontalo dan melanjutkan pendidikan hukum di Universitas Ichsan Gorontalo.