Minggu, 22 Maret 2026

Banjir di Kota Gorontalo

Cerita Lin Napu, Korban Banjir yang Tetap Jualan Nike di Leato Kota Gorontalo

Lin Napu (35) korban banjir yang memilih tetap berjualan nike di Kelurahan Leato Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. kendati rumahnya kebanjiran.

Tayang:
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Cerita Lin Napu, Korban Banjir yang Tetap Jualan Nike di Leato Kota Gorontalo
TRIBUNGORONTALO/PRAILAKARAUWAN
Lin Napu (35) penjual nike di Kelurahan Leato, Kota Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Lin Napu (35) korban banjir yang memilih tetap berjualan nike di Kelurahan Leato Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. kendati rumahnya kebanjiran.

Lin bertempat tinggal di Kelurahan Lekobalo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo tengah tergenang banjir setinggi perut orang dewasa.

Kata Lin, dirinya mempercayakan rumah dan barang-barangnya kepada sang istri.

"Kalau di rumah ada istri, anak masih pada kecil," ujarnya kepada TribunGorontalo.com.

Lin memiliki dua orang anak, anak pertama sudah berusia remaja, sedangkan anak keduanya masih berusia balita.

Anak-anaknya pun telah diungsikan ke rumah tetangganya yang lebih tinggi.

"Sudah sampai diperut tingginya (banjir)," lanjutnya.

Lin sudah berjualan nike di Kelurahan Leato, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo sejak dirinya berusia remaja.

Saat itu, dirinya masih berusia sekira 20 tahun mulai berjualan.

Namun, dalam dunia perdagangan, Lin telah mempelajarinya sejak dirinya berhenti sekolah.

"Cuma sampai kelas enam saya, lalu sudah ikut orang buat jualan," jelasnya.

Lin berjualan setiap hari dengan keuntungan yang tidak menentu.

Jarak sekira 11 kilometer (Km) ditempuhnya setiap hari hanya untuk mendapatkana Rp 100 ribu hingga 150 ribu.

Nike yang dijualnya pun dipasok dari nelayan.

"Cuma beli di pelelangan atau cuma beli dari nelayan," ucapnya

Semenjak rumahnya tergenang banjir, dirinya pun sempat tidak berjualan selama dua hari.

Hal itu yang membuat Lin tetap memaksa berjualan nike.

"Popok dengan susunya adik juga sudah habis, jadi saya harus jualan," kata pria kelahiran 1989 ini.

Dengan semangat juang yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Lin tetap berupaya dengan segala kemampuan yang ada untuk dapat memenuhi kebutuhan.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved