Human Interest Story
Datang dari Jatim, Sampir Bin Sampan Betah 27 Tahun di Gorontalo jadi Tukang Sol Sepatu
Sampir menjalani kehidupannya di Gorontalo seorang diri. Dia tiba di kota ini pada tahun 1997 dan memulai perjalanannya sebagai tukang sol sepatu.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sampir-Bin-Sampan-74-Tukang-sol-sepatu-keliling-di-Kota-Gorontalo-Rabu-0372024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Sampir Bin Sampan (74), pria asal Ngawi, Jawa Timur, telah menetap di Gorontalo dan bekerja sebagai tukang sol sepatu sejak tahun 1997.
Sampir menjalani kehidupannya di Gorontalo seorang diri. Dia tiba di kota ini pada tahun 1997 dan memulai perjalanannya sebagai tukang sol sepatu.
"Saya tidak punya keluarga di sini. Sejak pertama kali datang pada 1997, saya berjuang seorang diri, mencari penghasilan dari jasa sol sepatu ini," kata Sampir kepada TribunGorontalo.com, Rabu (3/7/2024).
Baca juga: Empat Mobil Tertimbun Lumpur, Warga Leato Gorontalo Gotong Royong Evakuasi
Awal karirnya dimulai dengan belajar dari tukang sol sepatu di Kotamobagu, Sulawesi Utara, sebelum akhirnya merantau ke Gorontalo.
"Saya sempat tinggal di Kotamobagu, di sanalah pertama saya belajar soal sol sepatu," ungkapnya.
Bahkan, sebelum menjadi tukang sol sepatu, Sampir mencoba berbagai pekerjaan lain, termasuk bekerja di pabrik minyak di Kotamobagu.
Namun, ia tidak lama tinggal di kota tersebut dan segera memutuskan untuk menetap di Gorontalo.
Baca juga: Alat Berat Singkirkan Material Longsor di Jalan Kelurahan Leato Gorontalo
Setelah tiba di Gorontalo, Sampir bertemu dengan seorang warga yang baik hati yang menawarkan tempat tinggal.
"Saya tidak punya tempat tinggal sendiri di sini, akhirnya saya diajak tinggal bersama seorang warga di Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, dekat Kolam Pancing," katanya.
Sampir sangat terharu dengan kebaikan warga Gorontalo.
"Saya ini orang asing, tapi kok dia mau bantu saya, baik sekali orang itu," ujarnya dengan penuh kagum.
Bahkan, saat ia sakit, warga tersebut mengajaknya ke dokter yang tidak meminta bayaran.
"Rupanya, dokternya tidak meminta saya untuk membayar praktik. Eh, saya ketemu lagi dengan orang Gorontalo yang murah hatinya," tutur Sampir penuh syukur.
Sejak tahun 1997, Sampir tidak pernah mencoba pekerjaan lain selain jasa sol sepatu keliling.
Ia bertekad menekuni usaha ini karena dianggap sebagai opsi pekerjaan paling memungkinkan untuknya.