Rabu, 11 Maret 2026

Liputan Lahan Sawah

Cerita Usman, Petani Gorontalo Siap Alih Pekerjaan Setelah 29 Tahun

Cerita Muhammad Usman (60) petani di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo yang sudah bekerja selama 29 tahun.

Tayang:
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Cerita Usman, Petani Gorontalo Siap Alih Pekerjaan Setelah 29 Tahun
TRIBUNGORONTALO/NAWIRISLIM
Muhammad Usman, Petani di Kota Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Cerita Muhammad Usman (60) petani di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo yang sudah menjadi petani sawah selama 29 tahun.

Usman sudah dalam tahap persiapan untuk beralih dari pekerjaan yang telah digelutinya ini.

Hal tersebut ia persiapkan karena lahan pertanian di Kota Gorontalo sudah mulai tergerus akibat pembangunan.

Bahkan di beberapa kecamatan sudah tidak memiliki lahan pertanian lagi.

Diketehui, total luas lahan pertanian di Kota Gorontalo sekitar 741 Hektare dari tahun sebelumnya sekitar 760 Hektare.

Memang Usman bukanlah petani yang menanam padi, melainkan bekerja sebagai bagian pembajak.

Biasanya jasanya disewa oleh pemilik lahan untuk membalikkan tanah pasca pemanenan padi.

Hal tersebut dilakukan untuk memberangas gulma yang berada di lahan saat padi sudah dipanen.

Dari jasanya itulah ia mendapatkan uang yang cukup untuk menghidupinya di Kota Gorontalo.

Dalam seminggu ia bersama kawan-kawannya bisa membajak sedikitnya tiga petak sawah di Gorontalo setelah masa panen.

Masa panen di Kota Gorontalo sendiri biasanya dua kali dalam setahun. Namun karena adanya program pemaksimalan fungsi lahan dari Dinas Pertanian, sehingga bisa tiga kali.

"Seminggu bisa sampai tiga petak bahkan lebih. Satu petak saja hanya setengah hari bajaknya," kata Usman, Kamis (2/4/2024).

Kendati demikian, di dalam hatinya tetap gusar menyaksikan pekerjaannya yang tampak akan punah di Kota Gorontalo.

Bagaimana tidak, teman-teman yang sama pekerjaan dengannya sudah mulai beralih pekerjaan.

Menyisakan sedikit warga yang bersedia bekerja sebagai petani termasuk dirinya di Kota ini.

"Saya masih bekerja karena punya mesin traktor ini. Jadi masih untunglah sekarang," tambahnya.

Ia pun berpikir akan menjadi seorang tukang bangunan jika pada suatu saat sudah tidak ada pengguna jasanya bajaknya di Kota Gorontalo.

Usman berpikir bahwa pekerjaan beratlah kemampuan utama yang dimiliki. Sehingga ia tidak akan memilih-milih pekerjaan.

Memang penghasilan Usman saat membajak harus dibagi dengan kelompoknya yang bisa mencapai empat orang.

Satu petak lahan biasanya dibayar Rp 400 ribu, karena harus berbagi Usman biasanya  mendapatkan Rp 100 ribu

"Tapi saudara saya sudah sukses dan berkeluarga semua. Saya tinggal dengan mereka di dekat sini," tutupnya. (*/Fernandes)
 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved