Berita Kabupaten Gorontalo
Polisi Periksa Aduan Masyarakat soal Dugaan Pungli Oknum Kades di Kecamatan Pulubala Gorontalo
Menurut Pejabat Sementara Kanit III Tipikor Polres Gorontalo, Aiptu Wawan S Tahir, dugaan pungli di pasar hewan itu berdasarkan aduan masyarakat.
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pejabat-Sementara-Kanit-III-Tipikor-Polres-Gorontalo-Aiptu-Wawan-S-Tahir.jpg)
"Dia (dosen) sudah request apa yang dia mau, harganya hampir Rp800 ribu. Dan itu harus disediakan. Bahkan banyak juga teman saya yang dapat request dari oknum tertentu," tuturnya.
Wanita berusia 25 tahun ini menjelaskan ia dan teman-temannya kerap kali diancam akan dipersulit. Seperti mengurus berkas akademik termasuk tanda tangan dosen jika tidak mengikuti kebijakan kampus.
Ia mengaku beberapa oknum dosen menyediakan jasa catering dan jasa parsel.
"Kemudian kami diarahkan untuk memakai jasa itu, padahal kalau pesan diluar tidak segitu harganya," tutur dia.
Kondisi ini, kata dia, sudah berlangsung sejak lama. Banyak teman-temannya tertunda ujian hanya karena permintaan katering dan parsel.
"Padahal mereka tinggal ujian saja, tapi terhalang karena itu. Sebenarnya bisa juga makanan dos, tapi harus sekitar 20 dos lebih, harganya juga tidak boleh yang Rp15 ribu," terangnya.
Ia mengaku diminta biaya cek plagiasi tesis di kampus, padahal harganya cukup mahal.
"Kalau di luar cuma Rp15 ribu tapi ada oknum pegawai yang menyarankan untuk cek dikampus saja. Dia bilang minimal untuk pengecekan plagiasi itu minimal Rp400 ribu," ujarnya.
Keluhan sejumlah mahasiswa tersebut rupanya dialami alumnus Pascasarjana IAIN.
Alumnus ini mengungkapkan telah menghabiskan sekira Rp10 jutaan untuk biaya keperluan ujian akhir.
Bahkan karena keinginannya segera lulus, ia sampai menggadaikan sertifikat tanah untuk keperluan ujian.
"Sampai saat ini belum lunas, masih berjuang melunasi itu," ungkapnya.
Menurut pria yang ingin namanya disamarkan ini pemberian catering dan parsel sebenarnya hal biasa, ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
"Karena sudah pasca juga kan, jadi memang banyak keluar uang. Beda dengan S1, kalau tidak bisa, sebaiknya mundur saja," tuturnya.
Adapula mahasiswi pascasarjana mempertanyakan uang pendaftaran ujian.