Hari Patriotik Gorontalo
Hari Patriotik 23 Januari 1942, Tonggak Sejarah Kemerdekaan Gorontalo dari Penjajahan Belanda
Momen itu diabadikan hingga saat ini. Selasa besok rakyat Gorontalo akan memperingati Hari Patriotik ke-82.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1222023_taruna-remaja.jpg)
Berkat strategi Nani Wartabone, Pasukan Rimba berhasil menguasai pusat pemerintahan Belanda.
Tak hanya itu, Nani Wartabone bersama rakyat berhasil menawan WNA dan anggota kepolisian Belanda. Di antaranya 15 pejabat Pemerintah Belanda. Mereka dibawa ke Kantor Pos Gorontalo.
Proklamasi kemerdekaan Gorontalo pun dibacakan oleh Nani Wartabone didampingi oleh Kusno Danupoyo tepat hari Jum'at, 23 Januari 1942.
Naskah Proklamasi tersebut berbunyi,“Pada hari ini tanggal 23 Djanoeari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini soedah merdeka bebas lepas dari pendjadjahan bangsa manapoen djuga. Bendera kita jaitu Merah-Poetih, lagoe kebangsaan adalah Indonesia Raya, Pemerintahan Belanda soedah diambil alih oleh Pemerintah Nasional. Mari kita mendjaga keamanan dan ketertiban”.
Bendera merah putih Indonesia dikibarkan sebagai pertanda Gorontalo merdeka dari penjajahan Belanda. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan seluruh masyarakat Gorontalo.
Pada hari yang sama, rakyat Gorontalo menyatakan bergabung sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Baca juga: Pengamat Politik Gorontalo Ungkap Alasan Pelanggaran Pemilu Kebanyakan dari Pemegang Kekuasaan
Pembentukan PPPG
Setelah semua prosesi proklamasi kemerdekaan selesai, dibentuklah Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG).
PPPG bertujuan menjalankan pemerintahan Gorontalo. Anggotanya terdiri dari 12 orang Komite Dua Belas yang diketuai Nani Wartabone.
Masih di hari yang sama, tepat pada sore hari dibentuk Pasukan Pengawal Kota yang dipimpin oleh Ibrahim Mohammad. Kepala Stafnya Ali Baladraf, sementara anggota dari pasukan tersebut berasal dari kepramukaaan.
Kemudian juga Pendang Kalengkongan ditunjuk untuk bertugas memimpin Bagian Keamanan Rakyat dengan anggota yang berasal dari kepolisian.
Pada 27 Januari 1942 dilaksanakan apel besar dipimpin Nani Wartabone. Ia didampingi Kusno Danupoyo sebagai bentuk unjuk kekuatan Pasukan Pengawal Kota.
Setelah itu berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo disebarkan di daerah sekitar.
Selanjutnya Muhammad Tahir diutus ke Banggai, Ismail Komda ke Ampana, Dai Wartabone ke Una-una dan Ibrahim Usman ke Toli-Toli.
Seiring berjalannya waktu Pemerintah Gorontalo terus berganti. Namun 23 Januari 1942 ditetapkan sebagai hari kemerdekaan Gorontalo.
Setiap tahunnya rakyat Gorontalo akan mengelar upacara bendera. Di dalamnya ada pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan, bagian dari simbol penghargaan tertinggi rakyat Gorontalo untuk para pahlawan.