Minggu, 22 Maret 2026

Hari Patriotik Gorontalo

Hari Patriotik 23 Januari 1942, Tonggak Sejarah Kemerdekaan Gorontalo dari Penjajahan Belanda

Momen itu diabadikan hingga saat ini. Selasa besok rakyat Gorontalo akan memperingati Hari Patriotik ke-82.

Tayang:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Hari Patriotik 23 Januari 1942, Tonggak Sejarah Kemerdekaan Gorontalo dari Penjajahan Belanda
TribunGorontalo.com
Potret patung Nani Wartabone di wisata Taruna Remaja Kota Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Hari Patriotik 23 Januari 1942 menjadi tonggak sejarah Kemerdekaan Gorontalo.

Momen itu diabadikan hingga saat ini. Selasa besok rakyat Gorontalo akan memperingati Hari Patriotik ke-82.

Sebelum Ir Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Gorontalo tiga tahun lebih dahulu menyatakan kemerdekaan.

Saat itu Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo dibacakan oleh Nani Wartabone didampingi Kusno Danupoyo d

Pengibaran bendera sang saka merah putih berlangsung di Kantor Pos Gorontalo pada pukul 10.00 Wita.

Dosen Sejarah Universitas Negeri Gorontalo, Andris Malae, mengatakan momen bersejarah tersebut harus tetap di dijaga dan di rawat.

Menurutnya peristiwa ini harus terus diceritakan kepada seluruh masyarakat Gorontalo.

Sejarah kemerdekaan Gorontalo perlu disebarkan ke semua jenjang pendidikan. Sehingga jiwa nasionalisme dan patriotisme tetap melekat pada putra putri Gorontalo.

"Mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Kita harus memperkenalkan sejarah Gorontalo ini kepada mereka. bukan hanya soal 23 Januari ya, tapi semua sejarah," kata Andris kepada TribunGorontalo.com, Senin (22/1/2024). 

Lebih lanjut Andris mengatakan, Hari Patriotik harusnya menjadi refleksi generasi zaman sekarang.

"Kalau tidak salah di tanggal 23 Januari itu, seluruh ASN dan masyarakat mengunakan Karawo. Ini bagus sebagai penghormatan terhadap momen sejarah itu," ucapnya. 

Andris juga berharap kepada anak muda agar selalu kreatif, memanfaatkan perkembangan digital untuk memperkenalkan sejarah Gorontalo.

"Untuk pemerintah daerah, kegiatan sejarah mungkin perlu ditingkatkan. Sekarang ini contoh bahasa Gorontalo ini penggunanya tinggal sedikit. Harapannya semuanya bisa dilestarikan," tandasnya.

Peristiwa 23 Januari 1942

Peristiwa 23 Januari 1942 menandai perlawanan rakyat Gorontalo terhadap penjajah Belanda.

Hal itu diawali ketika Pemerintah Belanda berencana membumihanguskan daerah jajahannya termasuk Gorontalo.

Itu merupakan bagian dari propaganda Belanda sebagai bentuk antisipasi serangan Jepang ke Indonesia.

Namun propaganda tersebut diketahui oleh Saripa Rahman Hala yang ditugaskan untuk menyelidiki Pemerintah Belanda.

Mengetahui informasi tersebut sangat penting, Saripa bergegas melaporkan rencana Pemerintah Belanda kepada Kaharu dan Ahmad Hippy. Lalu diteruskan ke Kusno Danupoyo dan Nani Wartabone.

Ketika informasi itu sampai ke telinga Nani Wartabone, ia langsung teringat kekejaman Pemerintah Belanda di kampung halamannya, Suwawa.

Atas dasar nasionalisme, Nani Wartabone bergerak atas kehendak hati nuraninya untuk berjuang melawan Pemerintah Belanda saat itu.

Ia menyiapkan strategi untuk merebut kemerdekaan Gorontalo dari Belanda.

Sadar kekuatan besar Belanda, Nani Wartabone bersama Kusno Danupoyo membentuk komite 12 yang dikomandani oleh dua pejuang tersebut.

Komite 12 ini terdiri atas Nani Wartabone (Ketua), Kusno Danupoyo (Wakil Ketua), Oe. H. Buluati (Sekretaris), A.R. Ointoe (Wakil Sekretaris).

Sementara anggota lainnya adalah Usman Monoarfa, Usman Hadju, Usman Tumu, A. G. Usu, M.Sugondo, R.M.Danuwatio, Sagaf Alhasni, dan Hasan Badjeber.

Setelah sholat subuh di hari Jum'at, 23 Januari 1942, pasukan komite 12 atau juga dikenal Pasukan Rimba ini bergerak ke pusat Pemerintahan Belanda.

Tanpa disadari oleh mereka, sepanjang perjalanan Pasukan Rimba ini menarik perhatian masyarakat Gorontalo.

Pada akhirnya semakin banyak pengikut Pasukan Rimba yang di pimpin oleh Nani Wartabone ini.

Awalnya hanya masyarakat Suwawa saja, kemudian hampir seluruh masyarakat dari daerah lain turut serta dalam gerakan kudeta Pemerintah Belanda. Seperti halnya Pendang Kalengkongan dan Ardani Ali, unsur kepolisian kala itu.

Rombongan Pasukan Rimba ini akhirnya sampai di Kota Gorontalo. Mereka langsung menyerbu markas Pemerintah Belanda.

Berkat strategi Nani Wartabone, Pasukan Rimba berhasil menguasai pusat pemerintahan Belanda.

Tak hanya itu, Nani Wartabone bersama rakyat berhasil menawan WNA dan anggota kepolisian Belanda. Di antaranya 15 pejabat Pemerintah Belanda. Mereka dibawa ke Kantor Pos Gorontalo.

Proklamasi kemerdekaan Gorontalo pun dibacakan oleh Nani Wartabone didampingi oleh Kusno Danupoyo tepat hari Jum'at, 23 Januari 1942.

Naskah Proklamasi tersebut berbunyi,“Pada hari ini tanggal 23 Djanoeari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini soedah merdeka bebas lepas dari pendjadjahan bangsa manapoen djuga. Bendera kita jaitu Merah-Poetih, lagoe kebangsaan adalah Indonesia Raya, Pemerintahan Belanda soedah diambil alih oleh Pemerintah Nasional. Mari kita mendjaga keamanan dan ketertiban”.

Bendera merah putih Indonesia dikibarkan sebagai pertanda Gorontalo merdeka dari penjajahan Belanda. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan seluruh masyarakat Gorontalo.

Pada hari yang sama, rakyat Gorontalo menyatakan bergabung sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga: Pengamat Politik Gorontalo Ungkap Alasan Pelanggaran Pemilu Kebanyakan dari Pemegang Kekuasaan

Pembentukan PPPG

Setelah semua prosesi proklamasi kemerdekaan selesai, dibentuklah Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG).

PPPG bertujuan menjalankan pemerintahan Gorontalo. Anggotanya terdiri dari 12 orang Komite Dua Belas yang diketuai Nani Wartabone.

Masih di hari yang sama, tepat pada sore hari dibentuk Pasukan Pengawal Kota yang dipimpin oleh Ibrahim Mohammad. Kepala Stafnya Ali Baladraf, sementara anggota dari pasukan tersebut berasal dari kepramukaaan.

Kemudian juga Pendang Kalengkongan ditunjuk untuk bertugas memimpin Bagian Keamanan Rakyat dengan anggota yang berasal dari kepolisian.

Pada 27 Januari 1942 dilaksanakan apel besar dipimpin Nani Wartabone. Ia didampingi Kusno Danupoyo sebagai bentuk unjuk kekuatan Pasukan Pengawal Kota.

Setelah itu berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo disebarkan di daerah sekitar.

Selanjutnya Muhammad Tahir diutus ke Banggai, Ismail Komda ke Ampana, Dai Wartabone ke Una-una dan Ibrahim Usman ke Toli-Toli.

Seiring berjalannya waktu Pemerintah Gorontalo terus berganti. Namun 23 Januari 1942 ditetapkan sebagai hari kemerdekaan Gorontalo.

Setiap tahunnya rakyat Gorontalo akan mengelar upacara bendera. Di dalamnya ada pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan, bagian dari simbol penghargaan tertinggi rakyat Gorontalo untuk para pahlawan.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved