Jumat, 20 Maret 2026

Hari Patriotik Gorontalo

Hari Patriotik 23 Januari 1942, Tonggak Sejarah Kemerdekaan Gorontalo dari Penjajahan Belanda

Momen itu diabadikan hingga saat ini. Selasa besok rakyat Gorontalo akan memperingati Hari Patriotik ke-82.

Tayang:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Hari Patriotik 23 Januari 1942, Tonggak Sejarah Kemerdekaan Gorontalo dari Penjajahan Belanda
TribunGorontalo.com
Potret patung Nani Wartabone di wisata Taruna Remaja Kota Gorontalo. 

Hal itu diawali ketika Pemerintah Belanda berencana membumihanguskan daerah jajahannya termasuk Gorontalo.

Itu merupakan bagian dari propaganda Belanda sebagai bentuk antisipasi serangan Jepang ke Indonesia.

Namun propaganda tersebut diketahui oleh Saripa Rahman Hala yang ditugaskan untuk menyelidiki Pemerintah Belanda.

Mengetahui informasi tersebut sangat penting, Saripa bergegas melaporkan rencana Pemerintah Belanda kepada Kaharu dan Ahmad Hippy. Lalu diteruskan ke Kusno Danupoyo dan Nani Wartabone.

Ketika informasi itu sampai ke telinga Nani Wartabone, ia langsung teringat kekejaman Pemerintah Belanda di kampung halamannya, Suwawa.

Atas dasar nasionalisme, Nani Wartabone bergerak atas kehendak hati nuraninya untuk berjuang melawan Pemerintah Belanda saat itu.

Ia menyiapkan strategi untuk merebut kemerdekaan Gorontalo dari Belanda.

Sadar kekuatan besar Belanda, Nani Wartabone bersama Kusno Danupoyo membentuk komite 12 yang dikomandani oleh dua pejuang tersebut.

Komite 12 ini terdiri atas Nani Wartabone (Ketua), Kusno Danupoyo (Wakil Ketua), Oe. H. Buluati (Sekretaris), A.R. Ointoe (Wakil Sekretaris).

Sementara anggota lainnya adalah Usman Monoarfa, Usman Hadju, Usman Tumu, A. G. Usu, M.Sugondo, R.M.Danuwatio, Sagaf Alhasni, dan Hasan Badjeber.

Setelah sholat subuh di hari Jum'at, 23 Januari 1942, pasukan komite 12 atau juga dikenal Pasukan Rimba ini bergerak ke pusat Pemerintahan Belanda.

Tanpa disadari oleh mereka, sepanjang perjalanan Pasukan Rimba ini menarik perhatian masyarakat Gorontalo.

Pada akhirnya semakin banyak pengikut Pasukan Rimba yang di pimpin oleh Nani Wartabone ini.

Awalnya hanya masyarakat Suwawa saja, kemudian hampir seluruh masyarakat dari daerah lain turut serta dalam gerakan kudeta Pemerintah Belanda. Seperti halnya Pendang Kalengkongan dan Ardani Ali, unsur kepolisian kala itu.

Rombongan Pasukan Rimba ini akhirnya sampai di Kota Gorontalo. Mereka langsung menyerbu markas Pemerintah Belanda.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved