Berita Ekonomi Gorontalo
2 Alasan Harga Beras Gorontalo saat Ini Belum Turun
Meski telah memasuki masa panen harga beras belum mengalami penurunan yang signifikan.
Penulis: Ahmad Rajiv Agung Panto | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM, Bone Bolango – Meski telah memasuki masa panen harga beras belum mengalami penurunan signifikan.
Dari pantauan TribunGorontalo.com, di pasar Sentral Kota Gorontalo harga beras berada di angka Rp 700 Ribu per 50 kg. Beras dijual seharga Rp 13 ribu per liter atau Rp 15 ribu per kilogram (kg).
Harga tersebut sama dengan harga yang dikeluarkan oleh para pengepul gabah atau pemilik gilingan padi di Kabupaten Bone Bolango.
Hamdin atau dikenal Aba Dino, pemilik gilingan padi, mengatakan hasil panen saat ini sangat menurun.
“Beras sekarang masih Rp 700 ribu per koli. Walaupun musim panen saat ini harga beras masih susah akan turun,” ujar Hamdin kepada TribunGorontalo.com, Minggu 26/11/2023.
Alasan pertamanya, jumlah gabah menurun karena musim kemarau sawah petani kekurangan asupan air. Sehingga pertumbuhan padi disebut tidak maksimal.
Selain itu, jumlah gabah petani yang dihasilkan sangat menurun, beberapa wilayah disebut tak menanam padi.
"Sebagiannya juga sawah tidak terkena hujan, jadi satu musim kemarin mereka tidak menanam,” tuturnya.
Baca juga: Gondol HP Milik Mahasiswa UNG Gorontalo, Oknum Honorer Damkar Bone Bolango Diringkus Polisi
Petani resah produksi beras turun
Petani padi di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo mulai resah akibat dampak musim kemarau berkepanjangan.
Pasalnya, produksi padi kian menurun dan berpengaruh besar pada pendapatan para petani.
Kemarau mengakibatkan ketersediaan air rendah sehingga mengganggu proses pertumbuhan padi.
Sebagian besar petani di Bone Bolango memang bergantung pada hasil panen padi sebagai sumber utama penghasilan mereka. Seperti diungkapkan petani padi Bone Bolango Alexander Hunowu.
"Ada kendala seperti susah air dan juga banyak hama yang merusak tanaman," ujar Alexander saat ditemui TribunGorontalo.com usai menggiling padi, Rabu (01/11/2023).
Karena kesusahan air, Alexander dan beberapa petani padi lainnya terpaksa menggunakan sumur suntik sebagai pengaliran air ke persawahan miliknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-beras26.jpg)