Gorontalo Darurat Malaria
Kabupaten Pohuwato Gorontalo Darurat Malaria, Tambang jadi Penyebab Utama
Kasus Malaria Kabupaten Pohuwato merupakan kasus tertinggi di Provinsi Gorontalo. Sektor tambang jadi awal mula penyebaran.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ilustrasi-nyamuk-malaria.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Pohuwato – Kasus Malaria Kabupaten Pohuwato merupakan kasus tertinggi di Provinsi Gorontalo. Sektor tambang jadi sarang penyebaran penyakit yang disebabkan parasit Plasomodium tersebut.
Kasus penyakit menular malaria saat ini menjadi fokus utama Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.
Tercatat penyakit malaria Provinsi Gorontalo telah mencapai angka 526 kasus positif. Tertinggi di Kabupaten Pohuwato, mencapai 311 kasus positif.
Iswan Ahmad menjelaskan, penyebab awal kasus positif di Pohuwato terjadi di sektor tambang.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo itu mengatakan bahwa awalnya kasus malaria ini tergolong kasus impor.
Kasus impor malaria adalah kasus yang disebabkan adanya penularan di satu daerah dari daerah lain.
Di Pohuwato sendiri, Iswan mengatakan mulanya ditularkan nyamuk dari penambang yang sebelumnya sempat bepergian ke Papua.
"Penambang itu positif malaria, sedangkan daerah tambang jadi satu habitat nyamuk malaria, maka mulai terjadi penularan," jelas Iswan kepada TribunGorontalo.com pada Senin (9/10/2023),
Baca juga: 5 Wilayah Gorontalo Terancam Kehilangan Serfitikasi Eliminasi Malaria dari Kemenkes RI
Baca juga: BREAKING NEWS: 526 Warga Gorontalo Terjangkit Malaria, Waspada!
Kasus impor ini kemudian menjadi kasus endemis. Di mana masyarakat asli telah positif tertular penyakit malaria.
Iswan menjelaskan, daerah galian tambang membentuk cekungan tanah yang dalam.
Di daerah galian tersebut sering tergenang air. Sehingga nyamuk anopheles berkembangbiak dengan subur.
Lebih-lebih, Iswan menegaskan nyamuk anopheles mulai mencari mangsanya saat menjelang maghrib hingga pagi hari esoknya.
"Nyamuk mulai beroperasi sekitar jam 6 sore sampai jam 6 pagi, di mana itu adalah waktu kerja para penambang," tambah Iswan.
Iswan dan timnya mengatakan telah melakukan upaya-upaya penanggulangan kasus malaria di Pohuwato ini.
Mulai dari sosialisasi penyakit menular malaria, pelaksanaan screening di Puskesmas, hingga pembagian kelambu di daerah penambangan.