Musim Kemarau

Cerita Petani Bone Bolango Gorontalo yang Risau Dampak Kemarau Berkepanjangan

Iwan Ahmad (42) seorang petani di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, saat ini tengah menghadapi kekhawatiran akibat kemarau yang berkepanjang

|
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNGORONTALO/HUSNUL PUHI
persawahan milik Iwan Ahmad yang telah dibantu dengan alat penyedot air untuk mengaliri air di sawahnya. 

Jadi semisal petani gagal panen, maka petani tersebut mendapat jaminan penggantian dana sebesar Rp 6 juta.

"Dia membayar Rp 36 ribu itu dia dapat jaminan kalau tanamannya mati akibat kekeringan itu dia mendapat penggantian Rp 6 juta," lanjutnya.

Namun, hal tersebut hanya diperuntukkan untuk petani padi.

Petani jagung tetap pada harga preminya, yaitu Rp 100 ribu dan jika gagal panen, maka dapat dana penggantian Rp 6 juta.

"Petani jagung tidak dapat subsidi dari pemerintah," kata Muljady.

Kedua, upaya yang dilakukan Dinas Pertanian untuk menanggulangi bencana gagal panen adalah mendirikan embung dan perpompaan.

Meskipun jumlah embung dan perpompaan di Provinsi Gorontalo belum banyak, namun pemerintah tetap mengoptimalisasi embung dan perpompaan yang sudah ada.

"Meskipun di lapangan belum banyak, namun kita mengoptimalkan dulu apa yang ada," lanjutnya.

Dan upaya Dinas Pertanian yang ketiga dalam menanggulangi kerugian gagal panen oleh petani adalah program penggantian benih. 

"Kami juga memiliki program bagi petani yang gagal panen yaitu penggantian benih," imbuhnya.

Namun, penggantian benih tersebut harus melalui berita acara.

"Harus ada berita acara dari petugas kami di lapangan lalu kita usulkan untuk dapat penggantian benih," ujarnya. (Husnul/Praila)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved