Musim Kemarau
Cerita Petani Bone Bolango Gorontalo yang Risau Dampak Kemarau Berkepanjangan
Iwan Ahmad (42) seorang petani di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, saat ini tengah menghadapi kekhawatiran akibat kemarau yang berkepanjang
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/persawahan-milik-Iwan-Ahmad-yang-telah-56888.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Iwan Ahmad (42) seorang petani di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, saat ini tengah menghadapi kekhawatiran akibat kemarau yang berkepanjangan.
Kekeringan yang melanda wilayah ini, telah menyebabkan kesulitan petani dalam mendapatkan untuk kebutuhan persawahan.
Iwan Ahmad (42) petani yang bermukim di Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo mengaku risau dengan adanya musim kemarau yang jatuh pada musim tanam saat ini.
Sebab, ia sangat membutuhkan air dari irigasi untuk dialiri di area sawahnya, terlebih lagi dikala musim tanam seperti ini.
"Susah sekali air. Saya saja harus meminjam alat penyedot untuk mengaliri air di sawah," kata Iwan risau.
Iwan juga mengungkapkan keprihatinannya atas cuaca ekstrem yang berdampak negatif pada mata pencaharian utamanya.
"Kalau musim kemarau jatuh di musim panen itu saya harapkan. Cuman ini jatuh saat musim tanam," jelasnya.
Iwan pun menaruh harapan ke pihak berwenang untuk bisa berupaya mencari solusi dalam membantu petani menghadapi tantangan ini. Termasuk penyediaan bantuan air irigasi dan edukasi terkait praktik-praktik pertanian yang tahan kekeringan sangat dibutuhkannya.
"Ya semoga ada bantuan dari pemerintah setempat atau pengelolaan pengaliran air. Dan semoga juga cepat turun hujan," tandasnya dengan penuh harapan.
3 Strategi Pemprov Gorontalo Andai Petani Gagal Panen saat Musim Kemarau
Meskipun petani Gorontalo tidak mengeluhkan gagal panen akibat musim kemarau ini, namun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo sudah menyiapkan strategi.
Sejumlah upaya telah dilaksanakan Dinas Pertanian agar petani tidak merasa rugi apabila terjadi gagal panen.
Muljady Mario, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo mengatakan, salah satu upaya dilakukan dinas pertanian, yakni mengeluarkan program asuransi bagi petani.
"Petani ini hanya membayar Rp 36 ribu per hektar," ujar Muljady kepada TribunGorontalo.com, Selasa (29/8/2023).
Kata Muljady, sebenarnya harga premi untuk asuransi ini Rp 180 ribu. Namun, pemerintah menyubsidi Rp 144 ribu. Petani hanya membayar sisanya Rp 36 ribu.
Jadi semisal petani gagal panen, maka petani tersebut mendapat jaminan penggantian dana sebesar Rp 6 juta.
"Dia membayar Rp 36 ribu itu dia dapat jaminan kalau tanamannya mati akibat kekeringan itu dia mendapat penggantian Rp 6 juta," lanjutnya.
Namun, hal tersebut hanya diperuntukkan untuk petani padi.
Petani jagung tetap pada harga preminya, yaitu Rp 100 ribu dan jika gagal panen, maka dapat dana penggantian Rp 6 juta.
"Petani jagung tidak dapat subsidi dari pemerintah," kata Muljady.
Kedua, upaya yang dilakukan Dinas Pertanian untuk menanggulangi bencana gagal panen adalah mendirikan embung dan perpompaan.
Meskipun jumlah embung dan perpompaan di Provinsi Gorontalo belum banyak, namun pemerintah tetap mengoptimalisasi embung dan perpompaan yang sudah ada.
"Meskipun di lapangan belum banyak, namun kita mengoptimalkan dulu apa yang ada," lanjutnya.
Dan upaya Dinas Pertanian yang ketiga dalam menanggulangi kerugian gagal panen oleh petani adalah program penggantian benih.
"Kami juga memiliki program bagi petani yang gagal panen yaitu penggantian benih," imbuhnya.
Namun, penggantian benih tersebut harus melalui berita acara.
"Harus ada berita acara dari petugas kami di lapangan lalu kita usulkan untuk dapat penggantian benih," ujarnya. (Husnul/Praila)