Yosep Yusuf Cerita Pengalaman sebagai Penjual Ikan Pertama di Danau Limboto Gorontalo
Yosep Yusuf (54) bercerita saat pertama kali menjadi nelayan. Ia tumbuh di kawasan Danau Limboto
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Yosep-Yusuf.jpg)
Anak pertama sampai ketiga sudah bekerja sendiri, sedangkan anak keempatnya baru masuk kuliah, serta anak bungsu baru masuk SMA.
Baca juga: Pria Paruh Baya Gorontalo Ini Keliling Jual Celengan Kayu demi Beli Susu Bayi 9 Bulan
"Anak saya yang terakhir itu memang suka sekolah karena teman-temannya ada sekolah semua," ucap Yosep.
Anak perempuan Yosep sekarang kuliah di perguruan tinggi swasta di Kabupaten Gorontalo.
Walaupun kondisi keuangan menipis, Yosep tidak pernah menghalangi keinginan anaknya bersekolah.
Bahkan, anak lelakinya sempat ditawari mendaftar kepolisian, namun ditolak langsung anaknya.
"Dia bilang papa tidak ada biaya. Biar saja saya bekerja," terang Yosep menirukan perkataan anaknya tersebut.
Yosep kini tinggal di rumah peninggalan orangtuanya.
Ia sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Pria paruh baya ini menjual ikan mujair, ikan nila, dan ikan gabus.
"Saya bajual ikan ini waktu pertama jalan ini dibuka. Tiap dengar suara motor dari jauh. Saya tunggu lewat depan rumah," akunya.
Baca juga: Psikolog Riza Wahyuni Asal Jatim Cerita Soal Bahaya Child Grooming dan Pedofilia di Gorontalo
Puluhan tahun menjual ikan, Yosep mengungkapkan sekarang ini harga ikan semakin menurun.
Hanya saat bulan ramadhan, kata dia, ikan-ikan banyak diburu masyarakat.
"Sekarang ini kadang tidak laku, pak," tutur Yosep.
Di sisi lain, Yosep sudah tak lagi menerima bantuan pemerintah setempat.
Namun, pria paruh baya itu tak berkecil hati. Ia tak menggantung harapan pada bantuan pemerintah.
"Asalkan dorang sudah kasih bersih ini danau itu sudah cukup bagi saya," pungkasnya. (*)