Selasa, 24 Maret 2026

Yosep Yusuf Cerita Pengalaman sebagai Penjual Ikan Pertama di Danau Limboto Gorontalo

Yosep Yusuf (54) bercerita saat pertama kali menjadi nelayan. Ia tumbuh di kawasan Danau Limboto

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Yosep Yusuf Cerita Pengalaman sebagai Penjual Ikan Pertama di Danau Limboto Gorontalo
TribunGorontalo.com
Yosep Yusuf, penjual ikan di kawasan Danau Limboto Kabupaten Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto – Yosep Yusuf (54) bercerita saat pertama kali menjadi nelayan.

Yosep merupakan anak dari sepuluh bersaudara. Ia lahir dan tumbuh di kawasan Danau Limboto.

Sebelum Jalan Reformasi dibangun, Yosep sudah tinggal bersama orangtuanya di tempat tersebut.

Sejak kecil Yosep sudah pandai menangkap ikan air tawar. Berbekal umpan, Yosep setiap hari mendayung sampan di perairan Danau Limboto.

"Saya dari SD sudah sering cari ikan sendiri," kata Yosep Yusuf kepada TribunGorontalo.com, Minggu (25/6/2023) siang.

Yosep masuk sekolah SD Muhamadiyah pada usia tujuh tahun. 

Ia sempat dikucilkan oleh teman-temannya karena jarang mandi. Yosep pun tak menghiraukannya.

Yosep Yusup rumah
Tempat tinggal Yosep Yusuf bersama keluarganya

"Saya dikucilkan karena bau badan. Saya memang sehabis memancing itu langsung ke sekolah," ujarnya.

Yosep pergi ke sekolah setiap hari tanpa memakai alas kaki. 

Ia pun mengaku nama aslinya bukan Yosep tapi Saipul.

"Nama saya sebenarnya Saipul Yusuf tapi diubah jadi Yosep," ungkapnya.

Adalah kepala sekolah SD Muhammadiyah disebut sosok di balik nama barunya itu.

Sang kepsek merupakan kerabat dekat orangtuanya. Kala itu si Kepsek meminta ayah Yosep agar mengubah nama anaknya.

"Sejak SD itu saya nama berubah Yosep," lanjut dia.

Yosep menikah muda pada usia 19 tahun. Ia telah dikaruniai lima anak.

Anak pertama sampai ketiga sudah bekerja sendiri, sedangkan anak keempatnya baru masuk kuliah, serta anak bungsu baru masuk SMA.

Baca juga: Pria Paruh Baya Gorontalo Ini Keliling Jual Celengan Kayu demi Beli Susu Bayi 9 Bulan

"Anak saya yang terakhir itu memang suka sekolah karena teman-temannya ada sekolah semua," ucap Yosep.

Anak perempuan Yosep sekarang kuliah di perguruan tinggi swasta di Kabupaten Gorontalo.

Walaupun kondisi keuangan menipis, Yosep tidak pernah menghalangi keinginan anaknya bersekolah.

Bahkan, anak lelakinya sempat ditawari mendaftar kepolisian, namun ditolak langsung anaknya.

"Dia bilang papa tidak ada biaya. Biar saja saya bekerja," terang Yosep menirukan perkataan anaknya tersebut.

Yosep kini tinggal di rumah peninggalan orangtuanya.

Ia sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Pria paruh baya ini menjual ikan mujair, ikan nila, dan ikan gabus.

"Saya bajual ikan ini waktu pertama jalan ini dibuka. Tiap dengar suara motor dari jauh. Saya tunggu lewat depan rumah," akunya.

Baca juga: Psikolog Riza Wahyuni Asal Jatim Cerita Soal Bahaya Child Grooming dan Pedofilia di Gorontalo

Puluhan tahun menjual ikan, Yosep mengungkapkan sekarang ini harga ikan semakin menurun.

Hanya saat bulan ramadhan, kata dia, ikan-ikan banyak diburu masyarakat. 

"Sekarang ini kadang tidak laku, pak," tutur Yosep.

Di sisi lain, Yosep sudah tak lagi menerima bantuan pemerintah setempat.

Namun, pria paruh baya itu tak berkecil hati. Ia tak menggantung harapan pada bantuan pemerintah.

"Asalkan dorang sudah kasih bersih ini danau itu sudah cukup bagi saya," pungkasnya. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved