Makan Pisang dan Kacang di Tradisi Malam Qunut Batudaa Gorontalo

Tahun ini, tradisi Malam Qunut Batudaa Gorontalo kembali digelar. Lokasinya masih di Lapangan Porbat, Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Goron

|
Penulis: Ahmad Rajiv Agung Panto |
TribunGorontalo.com/AgungPanto
Hal yang tersisa dari Malam Qunut Batudaa Gorontalo hanyalah transaksi jual beli pisang dan kacang di Lapangan Porbat, Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo. Dulunya, tradisi ini diawali dengan mandi penyucian dosa di sumur tua Darussalam. 

“Jarang jarang kan ada, makanya sekalian liat suasana qunut yang sudah jadi hal wajib setiap pertengahan ramadhan, apalagi berburu kacang dengan pisang,” ujar Rifaldo Tantu salah satu pengunjung asal Kabupaten Bone Bolango. 

Seperti tahun sebelumnya, Malam Qunut Batudaa Gorontalo diramaikan dengan aktivitas jual beli pisang dan kacang. 

Lalu panitia penyelenggara juga menggelar berbagai lomba seperti tarik karung, tarik tambang, hingga makan kacang dan pisang.

Sejarah Singkat

Camat Batudaa, Daud Monoarfa sebagai warga setempat menceritakan tradisi malam qunut ini sudah ada sejak dulu kala. 

Awalnya ini adalah tradisi mandi dosa yang diselenggarakan di Masjid Darussalam. Posisi masjid ini berada tepat di lapangan yang kerap digunakan sebagai tempat pelaksanaan tradisi ini. 

“Di situ (masjid) ada sumur tua dan kulamu sebagai ritual untuk melakukan mandi dosa,” kata Daud Monoarfa. 

Saat itu masyarakat Batudaa percaya, jika ritual setiap pertengahan Ramadhan itu dapat menghapus dosa umat islam. 

Baca juga: Toyopo dan Tolangga dalam Perayaan Maulid Nabi, Ini Artinya dalam Budaya Gorontalo

Kabar ‘membersihkan’ dosa dengan mandi di sumur tua itupun tersebar luas ke pelosok Gorontalo. Banyak warga yang kemudian datang ke masjid tersebut. 

Momen itupun dimanfaatkan oleh para pedagang setempat untuk berjualan pisang dan kacang. Harapannya warga yang datang bisa sembari menikmati pisang kacang. 

Kebetulan, pisang dan kacang adalah makanan populer di Gorontalo. Warga Gorontalo merasa tak lengkap jika makan pisang tanpa kacang. 

Lambat laun, tradisi mandi menyucikan diri dari dosa itupun perlahan hilang. 

Terutama karena masyarakat jadi lebih tahu bahwa mandi saja tidak cukup untuk membersihkan dosa. 

Apalagi para sesepuh saat itu telah wafat dan tak ada yang melanjutkan tradisi itu lagi mandi untuk menyucikan dosa tersebut. 

Sejak saat itu, yang tersisa dari tradisi Malam Qunut Batudaa adalah aktivitas jual beli kacang dan pisang

Lalu pada 2007 mulailah digelar Perayaan Gebyar Akbar Malam Qunut yang diselenggarakan oleh Remaja Masjid Besar Darussalam Kecamatan Batudaa.

Berbagai macam kegiatan, salah satunya adalah lomba makan kacang dan pisang tercepat. Penyelenggara kegiatan ini adalah remaja Masjid Besar Darussalam. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved