Budaya Gorontalo

Toyopo dan Tolangga dalam Perayaan Maulid Nabi, Ini Artinya dalam Budaya Gorontalo

Dalam budaya Gorontalo, perayaan Walima ditandai dengan melakukan dikili semalam suntuk di masjid. Dikili adalah tradisi peninggalan leluhur

Editor: Wawan Akuba
Toyopo dan Tolangga dalam Perayaan Maulid Nabi, Ini Artinya dalam Budaya Gorontalo
TribunGorontalo.com
Potret Tolangga pada walima atau perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sebuah budaya Gorontalo yang sudah menjadi tradisi wajib adalah merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut “Walima”. 

Agusfrianti Toonaw menulis dalam jurnalnya, bahwa dalam budaya Gorontalo, Walima yang dilakukan masyarakat Gorontalo adalah wujud nyata kecintaan pada Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rezeki.

Dalam budaya Gorontalo, perayaan Walima ditandai dengan melakukan dikili semalam suntuk di masjid. Dikili adalah tradisi peninggalan leluhur, berupa kalimat-kalimat pujian kepada Nabi Muhammad serta kisah-kisah nabi Muhammad.

Pada dulu kala, para tokoh agama dan adat bersepakat, perayaan Walima dilakukan dengan membuat satu wadah atau tempat yang diberi nama “Lilingo”. 

Lilingo biasanya berisi nasi, ikan, ayam goreng, kue dan buah-buahan hasil pertanian. Lilingo artinya bulat bentuknya seperti loyang terbuat dari daun kelapa yang masih muda.

Berkembangnya waktu, pada tahun 1927 walima semakin meriah, lilingo yang bentuknya sederhana dilengkapi dengan kue dan telur masak ditusuk dengan bambu yang telah diraut dengan bersih kemudian ditancapkan di permukaan lilingo dan diberi nama ”Toyopo (Tututupo Woyowoyopo). 

Melansir jurnal “Studi tentang bentuk dan makna Tolangga dalam Walima di Kota Gorontalo” disebutkan, pada tahun 1937 pemerintah membuat toyopo yang besar dan diletakkan pada suatu tempat (wadah) yang terbuat dari bambu kuning.

Wadah tersebut membentuk bujur sangkar menyerupai kaki meja dan di bawahnya ada lantai tempat meletakkan toyopo yang terbuat dari bambu dibelah kecil-kecil (tolotahu), kemudian dihiasi dengan bendera warna-warni serta tulisan-tulisan yang artinya berhubungan erat dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Toyopo yang dihiasi tadi diberi nama ”Tolangga Lopuloto atau Walima Lopuloto” diantar ke masjid dengan tarian langga sampai di halaman masjid.

Saat ini dengan kreativitas masyarakat, Tolangga dibuat dengan berbagai model. Ada yang berbentuk perahu, pesawat, menara, bahkan ada Tolangga yang tak diantar ke masjid saking besarnya. 

Biasanya, masyarakat menaruh kue dan berbagai jenis makanan di dalam Tolangga. Ada juga yang memang membuat Tolangga dengan mengisinya dengan berbagai makanan ringan. 

“Sebagian besar masyarakat Gorontalo yang melaksanakan budaya walima kurang mengetahui bentuk dan makna tolangga, bentuk dan makna isi dari tolangga, serta bentuk dan makna jenis kue dan makanan di dalam tolangga yang semua itu adalah ciri khas dari walima di daerah Gorontalo.” tulis Agusfrianti Toonaw dalam jurnalsnya dikutip pada Senin (10/10/2022). (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved