Makan Pisang dan Kacang di Tradisi Malam Qunut Batudaa Gorontalo
Tahun ini, tradisi Malam Qunut Batudaa Gorontalo kembali digelar. Lokasinya masih di Lapangan Porbat, Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Goron
Penulis: Ahmad Rajiv Agung Panto |
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Tradisi Malam Qunut Batudaa Gorontalo hingga kini masih dilestarikan. Biasanya, digelar tiga hari sejak 13-15 Ramadhan.
Tahun ini di Ramadhan 1444 H/2023 M, tradisi Malam Qunut Batudaa Gorontalo kembali digelar. Lokasinya masih di Lapangan Porbat, Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.
Warga dari berbagai penjuru tak mau ketinggalan datang meramaikan tradisi Malam Qunut Batudaa Gorontalo sejak Selasa (4/5/2023).
Dalam bahasa Gorontalo, orang-orang mengajak pengunjung dengan kalimat, “Dulolo Monga Kaca Wau Lutu (ayo kita makan kacang dan pisang),” katanya.
Adanya tradisi ini pun, membuat para pedagang berbondong-bondong ke wilayah itu untuk berjualan pisang dan kacang.
Baca juga: Dua Budaya Gorontalo yang Terancam Punah, Ada Dulialo dan Dembulo, Apa itu?
Hasan Abas (42) salah satu pedagang mengungkapkan, rata rata para pedagang pisang yang menjajakan pisang merupakan warga asli.
“Rata rata warga asli sini (Batudaa), ada juga Suwawa, tapi mereka rata-rata bakase maso (hanya memasok) pisang,” kata Hasan kepada TribunGorontalo.com, Rabu (5/4/2023).
Katanya, malam ini Kamis (6/4/2023) akan jadi malam puncak tradisi ini. Biasanya akan lebih ramai dari malam pertama dan kedua.
“Puncaknya bisa lebih rame lagi,” tegas Hasan Abas.
Pisang yang dijual pun beragam jenis serta harga bervariatif. Ada pisang Gapi hingga pisang Australia.
“(Dijual) dari harga Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu per sisirnya,” kata pria berusia 42 tahun tersebut.
Selain itu ia pun turut menjual kacang kulit dengan harga Rp 20 ribu per liter.
Omset yang didapat pun menjanjikan dilihat dari ramainya pengunjung.
Baca juga: Semalam Suntuk Melantunkan Dikili dalam Budaya Gorontalo
“Kalau pendapatan itu tergantung, biasa nanti malam puncak kadang bisa Rp 1 - 2 juta itupun kalau rame, kalau sepi paling sedikit Rp 300 - 500 per sekali jualanya” tutup Hasan.
Pengunjung Malam Qunut Batudaa Gorontalo tidak hanya warga setempat. Beberapa dari kota maupun wilayah kabupaten lain.
“Jarang jarang kan ada, makanya sekalian liat suasana qunut yang sudah jadi hal wajib setiap pertengahan ramadhan, apalagi berburu kacang dengan pisang,” ujar Rifaldo Tantu salah satu pengunjung asal Kabupaten Bone Bolango.
Seperti tahun sebelumnya, Malam Qunut Batudaa Gorontalo diramaikan dengan aktivitas jual beli pisang dan kacang.
Lalu panitia penyelenggara juga menggelar berbagai lomba seperti tarik karung, tarik tambang, hingga makan kacang dan pisang.
Sejarah Singkat
Camat Batudaa, Daud Monoarfa sebagai warga setempat menceritakan tradisi malam qunut ini sudah ada sejak dulu kala.
Awalnya ini adalah tradisi mandi dosa yang diselenggarakan di Masjid Darussalam. Posisi masjid ini berada tepat di lapangan yang kerap digunakan sebagai tempat pelaksanaan tradisi ini.
“Di situ (masjid) ada sumur tua dan kulamu sebagai ritual untuk melakukan mandi dosa,” kata Daud Monoarfa.
Saat itu masyarakat Batudaa percaya, jika ritual setiap pertengahan Ramadhan itu dapat menghapus dosa umat islam.
Baca juga: Toyopo dan Tolangga dalam Perayaan Maulid Nabi, Ini Artinya dalam Budaya Gorontalo
Kabar ‘membersihkan’ dosa dengan mandi di sumur tua itupun tersebar luas ke pelosok Gorontalo. Banyak warga yang kemudian datang ke masjid tersebut.
Momen itupun dimanfaatkan oleh para pedagang setempat untuk berjualan pisang dan kacang. Harapannya warga yang datang bisa sembari menikmati pisang kacang.
Kebetulan, pisang dan kacang adalah makanan populer di Gorontalo. Warga Gorontalo merasa tak lengkap jika makan pisang tanpa kacang.
Lambat laun, tradisi mandi menyucikan diri dari dosa itupun perlahan hilang.
Terutama karena masyarakat jadi lebih tahu bahwa mandi saja tidak cukup untuk membersihkan dosa.
Apalagi para sesepuh saat itu telah wafat dan tak ada yang melanjutkan tradisi itu lagi mandi untuk menyucikan dosa tersebut.
Sejak saat itu, yang tersisa dari tradisi Malam Qunut Batudaa adalah aktivitas jual beli kacang dan pisang.
Lalu pada 2007 mulailah digelar Perayaan Gebyar Akbar Malam Qunut yang diselenggarakan oleh Remaja Masjid Besar Darussalam Kecamatan Batudaa.
Berbagai macam kegiatan, salah satunya adalah lomba makan kacang dan pisang tercepat. Penyelenggara kegiatan ini adalah remaja Masjid Besar Darussalam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/642023_Malam-Qunut-Batudaa-Gorontalo_001.jpg)