Budaya Gorontalo

Semalam Suntuk Melantunkan Dikili dalam Budaya Gorontalo

Budaya Gorontalo peninggalan leluhur ini merupakan tradisi melantunkan ungkapan kiasan dan pujian untuk Nabi Muhammad SAW.

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
Suasana dikili sebagai budaya Gorontalo yang terus dilestarikan. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Melantunkan dikili semalam suntuk setiap Maulid Nabi Muhammad SAW, merupakan budaya Gorontalo yang telah diwariskan sejak dahulu kala. 

Dikili telah diakui sebagai budaya Gorontalo dan kini menjadi warisan budaya Indonesia tak Benda (WBTB). 

Budaya Gorontalo peninggalan leluhur ini merupakan tradisi melantunkan ungkapan kiasan dan pujian untuk Nabi Muhammad SAW.

Naskah dikili yang ada di masyarakat biasanya ada yang dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah Gorontalo.

Melansir dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, tiga bahasa dalam naskah tersebut ditulis bervariasi. Isi naskah terdiri atas dua bentuk, yaitu bentuk puisi dan bentuk prosa (cerita). 

Tradisi ini sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala. Dikli dilaksanakan setiap tangal 12 Rabiul Awal sampai akhir bulan. Waktu pelaksanaan pada malam hari dengan memakan waktu sekitar 16 hingga 17 jam. 

Tukang dikili yang terdiri atas laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang tidak terbatas, melagukan dikili kurang lebih 318 kata-kata pujaan terhadap Nabi Muhammmad SAW.

Dikili biasanya dalam 87 variasi lagu, disamping itu membacakan 16 kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW serta nasihat-nasihat tentang keagamaan. 

Pelaksanaan dikili dimulai sesudah sholat Isya, diawali dengan doa yang dipimpin oleh ahlul. Seusai doa, variasi lagu pertama (asala) dilagukan oleh ahlul kemudian diikuti oleh yang lainnya. 

Ini berlaku sampai besok harinya. Menjelang berakhirnya dikili, diadakan doa bersama, usai doa, dibagikan uang atau sajian dalam tolangga kepada para tukang dikili.

Fungsi sosial tercermin dalam partisipasi masyarakat yang dengan sukarela memberikan sumbangan baik berupa uang maupun sajian untuk dibagikan kepada ahlul dan tukang dikili.

“Selain itu, fungsinya sebagai hiburan dan keagamaan serta pendidikan.” sebagaimana dikutip dari situs resmi warisan budaya. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved