Kamis, 5 Maret 2026

Arti Kata

Mengenal Apa Itu Solstis, Fenomena yang Dikaitkan Mitos Gola Gorontalo dan Larangan Keluar Rumah

Tanggal 22 Desember 2022 akan terjadi fenomena solstis, yang kini tengah heboh karena dikaitkan dengan teror gola Gorontalo, apa itu fenomena solstis?

Tayang:
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Wahid Nurdin
zoom-inlihat foto Mengenal Apa Itu Solstis, Fenomena yang Dikaitkan Mitos Gola Gorontalo dan Larangan Keluar Rumah
TRIBUNSUMSEL/M.A.FAJRI
Foto ilustrasi matahari: Fenomena matahari cincin yang terjadi di Palembang Sumatera Selatan, Rabu (28/8/2013). Kabar terbaru, pada 22 Desember 2022 akan terjadi fenomena solstis yang tidak berbahaya tetapi dikaitkan dengan mitos gola gorontalo hingga peringatan atau larangan keluar rumah. Apa itu fenomena solstis? 

Tak sedikit warganet yang mengkaitkan fenomena solstis dengan mitos teror gola hingga peringatan tentang larangan keluar rumah pada malam hari saat 21 Desember 2022.

Gola sendiri adalah istilah yang digunakan warga Gorontalo untuk menyebut sosok misterius atau mencurigakan yang melakukan tindak kejahatan seperti menculik anak dan lainnya.

Baca juga: Komnas HAM Sebut Ratusan Ribu WNI di Malaysia Terancam Stateless, Apa Itu dan Apa Konsekuensinya?

Dilansir TribunGorontalo.com dari Kompas.com, larangan keluar rumah, teror gola Gorontalo, tak berkaitan dengan fenomena solstis.

Peneliti di Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang justru dengan heran, mempertanyakan kaitan 21 Desember dengan teror Gola di Gorontalo.

Menurut Andi, akan ada fenomena solstis yang terjadi pada 22 Desember pukul 04.49.14 WIB atau 05.49.14 WITA atau 06.49.14 WIT.

Baca juga: Apa Itu Visum et Repertum, Bukti Kuat yang Tak Dimilki Putri Candrawathi di Kasus Pelecehan Seksual

Saat fenomena solstis terjadi, salah satu dampak yang dirasakan manusia ialah perbedaan durasi siang dan malam.

Di belahan Bumi utara Indonesia, kata dia, panjang siang akan menjadi lebih pendek, sedangkan durasi malam akan lebih lama.

Sebaliknya, di wilayah Indonesia yang berada di belahan Bumi selatan, akan mengalami durasi siang lebih panjang dan malam lebih pendek.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Paes Ageng, Riasan Erina Gudono saat Acara Pernikahan dengan Kaesang Pangarep

"Kaitannya apa? Apa karena mentang-mentang di Gorontalo kan belahan utara, panjang siangnya siangnya lebih pendek daripada malam?" ujar Andi, saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (19/12/2022) malam.

"Apa artinya itu penculik anak (Gola) bisa bebas berkeliaran dan menculik anak saat malam lebih yang panjang?" lanjutnya.

Apabila benar akan ada Gola, Andi pun mempertanyakan kondisi kota lain di Indonesia yang juga berada di belahan Bumi utara, seperti Binjai, Tarakan, dan Lhokseumawe.

Andi menerangkan, fenomena solstis adalah peristiwa saat Matahari berada paling utara atau paling selatan ketika mengalami gerak semu tahunannya.

Baca juga: Ahli Ungkap Hasil Tes Poligraf Ferdy Sambo dan Istrinya Terindikasi Berbohong, Apa Itu Poligraf?

Disebabkan sumbu rotasi Bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika, solstis terjadi dua kali dalam setahun, yakni Juni dan Desember.

"Dampak solstis yang dirasakan oleh manusia tentu tidak seekstrem yang dinarasikan seperti pada imbauan yang disinformatif dan menyesatkan," jelas Andi.

Dengan demikian, tidak ada larangan bagi manusia untuk keluar rumah saat fenomena solstis.

Baca juga: Sah, Deddy Corbuzier Kini Berpangkat Letkol Tituler Angkatan Darat, Apa Itu Tituler?

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved