Perdana, Pohuwato Ekspor 11 Ribu Ton Pelet Kayu ke Korea Selatan
Ini merupakan jenis bahan bakar alternatif terbarukan yang lebih ramah lingkungan, bentuknya hampir mirip dengan briket kayu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/41122_Pelet-Kayu.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Marisa - Sebanyak 11 ribu ton pelet kayu produksi asal Pohuwato diekspor ke Korea Selatan.
Pelet kayu yang diproduksi PT Biomassa Jaya Abadi di Pohuwato itu nilainya mencapai Rp 12 miliar.
Direktur Operasional PT Biomassa Jaya Abadi, Iskandar, menjelaskan, pelet kayu adalah energi terbarukan dalam pemanfaatan biomassa.
Pelet kayu merupakan jenis bahan bakar alternatif terbarukan yang lebih ramah lingkungan, bentuknya hampir mirip dengan briket kayu, namun ukuran dan bahan perekatnya berbeda.
“Wood pellet atau pelet kayu ini memiliki banyak sekali manfaat antara lain memenuhi berbagai macam kebutuhan, baik kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan industri dan perusahaan,” jelas Iskandar, Jumat (4/11/22).
Ekspor palet kayu ke Korea Selatan melalui Pelabuhan Bumbulan, Paguat, Kabupaten Pohuwato.
Saipul Mbuinga, Bupati Pohuwato mengaku senang dengan ekspor perdana pelet kayu ke Korea Selatan.
“Ini merupakan capaian prestasi dan kerja keras dari seluruh stakeholder yang telah bekerjasama memberikan dukungan penuh terhadap beroperasinya PT Biomassa Jaya Abadi di Kabupaten Pohuwato.” ungkap Saipul Mbuinga, Kamis (03/11/2022).
Menurutnya, ekspor perdana itu adalah kado ulang tahun dua dasawarsa Pohuwato pada 25 Februari 2023 nanti.
“Terima kasih kepada Pimpinan dan Manajemen PT Biomassa Jaya Abadi yang telah bersedia menggunakan fasilitas Pelabuhan Bumbulan dalam pengiriman hasil produksi dari perusahaan.” kata Saipul.
Ke depan kata dia, pihaknya akan terus mendorong agar seluruh aktivitas pengiriman hasil bumi Pohuwato dapat menggunakan fasilitas Pelabuhan Bumbulan.
Sedangkan Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang, secara terpisah menyampaikan, tren ekspor komoditas pertanian memang meningkat setiap bulannya di Gorontalo.
Karena itu, pihaknya menjaga tren ini dengan terus memberikan bimbingan kepada para eksportir. Jangan sampai ada hambatan-hambatan ekspor lagi.
“Kebijakan ekspor pertanian yang mendahulukan terpenuhinya kebutuhan pasokan dalam negeri menjadi strategi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian dalam menghadapi ancaman krisis pangan global,” ujar Bambang.
Bambang menekankan untuk menjaga momen ekspor ini, ekspor didorong pada komoditas komoditas yang ketersediaannya di dalam negeri sudah melimpah.
Serta jajaran karantina lakukan tugas pengawasan keamanan dan pengendalian mutu pangan dan pakan asal produk pertanian dengan dedikasi dan integritas tinggi. (*)