Budaya Gorontalo

Lagi, 4 Budaya Gorontalo Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Indonesia, Apa Saja?

Ini menunjukkan perhatian dan penelitian terus dilakukan sebagai upaya pelestarian budaya Gorontalo sebagai unsur budaya Indonesia.

Penulis: Wawan Akuba | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/Istimewa
Kerajinan tangan tikar tradisional (Amongo) di Desa Motilango, Duhiadaa Kabupaten Pohuwato. (Foto: Iswan Abas) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Pemerintah memasukan 4 budaya Gorontalo dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 22022. 

Penetapan 4 budaya Gorontalo dilakukan Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam sidang penetapan di Hotel Alana Yogyakarta, akhir September 2022 lalu. 

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Wahyudin Athar Katili sangat bersyukur atas masuknya 4 budaya dari Gorontalo sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

Ini menunjukkan perhatian dan penelitian terus dilakukan sebagai upaya pelestarian budaya Gorontalo sebagai unsur budaya Indonesia.

“Kami bersyukur, ini merupakan pengakuan atas upaya masyarakat dan Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam pemajuan kebudayaan melalui pembinaan dan pelestarian yang selama ini kami lakukan,” kata Wahyudin Katili, Minggu (2/10/2022).

Seluruh sertifikat warisan budaya takbenda yang berhasil lolos akan diserahkan pada acara perayaan dan penyerahan sertifikat WBTB tahun 2022 yang akan dilaksanakan kepada kepala daerah yang mengusulkan.

Baca juga: Tahu Tanggomo? Story Telling Tradisional dalam Budaya Gorontalo

Sementara menurut Direktur Perlindungan Kebudayaan Irini Dewi Wanti, sidang WBTb merupakan upaya perlindungan dan pelestarian karya budaya di mana setiap tahunnya proses pengusulan selalu disempurnakan.

Adapun 4 budaya Gorontalo yang ditetapkan sebagai WBTB adalah:

1. Longgo

Longgo adalah tarian yang berakar dari seni beladiri sejak abad 13 Masehi. Seni beladiri ini dulunya hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan atau yang tumbuh dalam lingkungan kerajaan sebagai pertahanan keamanan.

Sejarahnya, Longgo berasal dari kisah perkelahian antara dua kaum, yaitu Mauba dan Ogale.

Mauba adalah pemimpin kelompok laki-laki dan Ogale adalah pemimpin kelompok perempuan. Kedua kelompok ini tidak pernah akur, setiap bertemu pasti berkelahi. 

Dari perkelahian tersebut, terciptalah tiga seni beladiri Gorontalo, yang terdiri dari Tonggade, Langga dan Longgo

Longgo adalah kegesitan pelaku beladiri dalam memainkan senjata. Longga kurang lebih sama dengan Langga, karena memang sama-sama sebagai seni beladiri. 

Baca juga: Tradisi Tolobalango, Budaya Gorontalo dalam Meminang Perempuan

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved