HUT Ke 77 RI di Gorontalo
Kisah Patriotik Nani Wartabone: Melahirkan Jiwa Nasionalisme Gorontalo
Gorontalo punya cerita patriotik Nani Wartabone yang puncaknya 3 tahun belum kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170822-Nani-Wartabone-1.jpg)
“Sehingga kami warga Gorontalo selalu memeringati peristiwa ini setiap tanggal 23 Januari, kami menyebutnya dengan istilah Hari Patriotik,” kata Melki Amu, seorang guru di Suwawa.
Atas keberanian dalam perjuangan ini, Nani Wartabone dianugerahi Pemerintah Indonesia dengan gelar Pahlawan Nasional. Perjuangan ini juga yang memberi energi positif bagi pergerakan nasionalsime di sekitar Gorontalo.
Daerah-daerah di Teluk Tomini terinspirasi untuk bangkit melawan penjajahan. Di lapangan Taruna Remaja ini juga berdiri patung Nani Wartabone, ia bertopi dan memegang senjata ringan di tangan kiri, tangan kanan menunjuk ke arah kantor pos.
Patung ini seakan mengatakan di bangunan kantor pos inilah dimulainya perebutan kekuasaan kolonial oleh masyarakat sipil Gorontalo.
Nani Wartabone telah lama wafat, ia dimakamkan di halaman samping rumahnya. Di sampingnya juga bersemayam istri tercinta Aisa Tangahu.
Makam ini terletak di Kecamatan Suwawa Kabupaten Gorontalo. Di rumah peninggalan almarhum ini juga masih tersimpan peninggalan penting almarhum, terutama buku-buku tua berbahasa asing.
Atas perjuangan dan dedikasi mengabdi pada Indonesia selama hidup, masyarakat Gorontalo memberi gelar adat (pulanga) talo duluwa lo lipu yang berarti sang pembela negeri.
Melki Amu mengungkapkan, setiap Hari Patriotik 23 Januari makam Nani Wartabone selalu ramai dikunjungi masyarakat, bahkan pemerintah daerah selalu menggelar kegiatan di sini.
(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Inilah Deklarasi Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo yang Diumumkan Sebelum 17 Agustus 1945"