HUT Ke 77 RI di Gorontalo
Kisah Patriotik Nani Wartabone: Melahirkan Jiwa Nasionalisme Gorontalo
Gorontalo punya cerita patriotik Nani Wartabone yang puncaknya 3 tahun belum kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170822-Nani-Wartabone-1.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Gorontalo punya cerita patriotik Nani Wartabone yang puncaknya 3 tahun belum kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Kisah melawan penjajahan Belanda dilakukan Nani Wartabone, tokoh nasionalis dari Gorontalo.
Perjuangan seorang tokoh sipil Nani Wartabone berbuah deklarasi kemerdekaan yang diumumkan di lapangan Kota Gorontalo pada 23 Januari 1942.
Fakta sejarah ini menjadi titik awal lahirnya jiwa nasionalisme masyarakat di kawasan Gorontalo.
Pidato deklarasi ini diucapkan oleh Nani Wartabone, tokoh petani Gorontalo yang menjadi ketua Komite 12.
Deklarasi kemerdekaan itu berbunyi:
Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kami Bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga.
Bendera kita Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya, Pemerintah Belanda sudah diambil alih Pemerintah Nasional. Atas nama segenap rakyat, Ketua Komite Duabelas, Nani Wartabone.
Peristiwa 23 Januari 1942 ini berlangsung pukul 10.00 Wita, setelah orang-orang menawan pimpinan Pemerintahan Hindia Belanda.
Setelah itu dilakukan pengibaran bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya".
Tulisan deklarasi kemerdekaan Indonesia bisa dibaca di Museum Pahlawan Nani Wartabone di Suwawa Kabupaten Bone Bolango.
“Sayangnya naskah aslinya sampai sekarang belum diketahui, padahal kami sudah mencarinya di rumah Pak Nani Wartabone,” kata Merry Arsyad, edukator Museum Purbakala Provinsi Gorontalo, Selasa (16/8/2022).
Komite 12 ini adalah pimpinan partai politik di Gorontalo yang bersiap menghadapi segala kemungkinan akibat pecah Perang Pasifik.
Mereka adalah Nani Wartabone sebagai ketua, Koesno Dhanoepojo sebagai wakil ketua, Oe Boeloati sebagai sekretaris, anggotanya terdiri dari Usman Hadju, Usman Tumu, AG Usu, M Sugondo, RM Dhanu Watio, Sagaf Alhasni, Hasan Badjeber, AR Oeintoe, dan Usman Monoarfa.
Dari penelusuran salinan dokumen yang dibuat Nani Wartabone di Museum Purbakala Provinsi Gorontalo, diketahui pada deklarasi kemerdekaan Indonesia di Gorontalo, ia menjadi pucuk pimpinan setelah mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda.