Sabtu, 7 Maret 2026

HUT Ke 77 RI di Gorontalo

Kisah Patriotik Nani Wartabone: Melahirkan Jiwa Nasionalisme Gorontalo

Gorontalo punya cerita patriotik Nani Wartabone yang puncaknya 3 tahun belum kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Kisah Patriotik Nani Wartabone: Melahirkan Jiwa Nasionalisme Gorontalo
Kolase TribunGorontalo.com
Potret dan tugu Nani Wartabone di Kota Gorontalo. Gorontalo punya cerita patriotik Nani Wartabone yang puncaknya 3 tahun belum kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

Retno Sekarningrum mengatakan, Komite 12 ini pada awal dibentuk tidak untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia, namun untuk mengantisipasi aksi bumi hangus yang dilakukan oleh polisi khusus Hindia Belanda atau Vernielings Corps.

Mereka ingin menyelamatkan masyarakat dan aset daerah dari upaya penghancuran yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda.

Aksi bumi hangus ini dipicu kemenangan bala tentara Jepang atas sekutu di wilayah di Indonesia dan negara sekitar.

Agar aset vital di Gorontalo tidak jatuh ke tangan Jepang, Pemerintah Hindia Belanda memerintahkan Vernielings Corps untuk membakarnya.

Rencana bumi hangus ini bocor ke telinga para tokoh Gorontalo ini, mereka melakukan pertemuan rahasia mencari upaya untuk mencegah aksi destruktif ini. “Alasan terbentuknya Komite 12 sederhana ini.

Namun, seiring kondisi daerah dan perjalanan waktu, para tokoh Komite 12 membaca bahwa saat itu adalah saat yang tepat untuk melakukan pengambilan kekuasaan menggulingkan Pemerintah Hindia Belanda dengan melakukan penangkapan,” tutur Retno Sekarningrum.

Kondisi Gorontalo pada saat itu orang-orang di pemerintahan Hindia Belanda sedang bersiap meninggalkan daerah ini sambil menghancurkan fasilitas penting. Di sisi lain, bala tentara Jepang yang akan memasuki Gorontalo belum juga datang.

Komite 12 yang baru terbentuk beberapa hari sebelumnya menilai saat itu merupakan kondisi dan situasi yang tepat untuk melakukan kudeta Pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa di Gorontalo.

Para tokoh Komite 12 ini adalah Nani Wartabone sebagai ketua, Koesno Dhanoepojo sebagai wakil ketua, Oe Boeloati juga sebagai wakil ketua, anggotanya terdiri dari Usman Hadju, Usman Tumu, AG Usu, M Sugondo, RM Dhanu Watio, Sagaf Alhasni, Hasan Badjeber, AR Oeintoe dan Usman Monoarfa.

Para tokoh ini, terutama peran Nani Wartabone lalu menggerakkan masyarakat yang telah dilatih untuk mendatangi pusat kota, melakukan penangkapan dan perlucutan senjata tokoh pemerintahan kolonial saat itu.

Hebatnya, dalam peristwa ini tidak ada bentrokan fisik, tidak ada tembak-menembak sehingga kekerasan dapat dihindari.

Semua petinggi pemerintahan kolonial saat itu langsung diamankan digiring ke penjara yang letaknya tidak jauh dari rumah asisten residen.

Di saat yang sama sejumlah orang juga mengamankan obyek vital seperti Posts Telegraafend Telefoon Dienst atau perusahaan jawatan Pos, Telegram dan Telepon (PTT) yang berhadapan dengan kantor Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dan rumah kontrolir.

Hari Patriotik Usai melakukan penangkapan dan pengamanan obyek vital oleh masyarakat sipil ini, para tokoh komite 12 dan masyarakat menuju lapangan.

Di tengah-tengah lapangan ini Nani Wartabone dengan lantang membacakan deklarasi kemerdekaan Indonesia, yang kemudian diikuti pengibaran bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada 23 Januari 1942.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved