HUT Ke 77 RI di Gorontalo
Kisah Patriotik Nani Wartabone: Melahirkan Jiwa Nasionalisme Gorontalo
Gorontalo punya cerita patriotik Nani Wartabone yang puncaknya 3 tahun belum kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170822-Nani-Wartabone-1.jpg)
Anggota Komite 12 lainnya berfungsi sebagai anggota badan legislatif dalam menjalankan stabilitas pemerintahan sehari-hari.
“Dalam catatannya Pak Nani Wartabone juga diketahui bahwa setelah Deklarasi Kemerdekaan Indonesia, pada 1 Februari 1942 Panglima Komando Tentara Jepang di Manado mengirim 3 orang perwiranya untuk meminta bantuan pangan dari Pemerintah Gorontalo,” ucap Merry Arsyad.
Selain meminta bahan pangan ternyata tentara Jepang juga meminta penyerahan orang-orang Belanda yang ditawan lascar rakyat di Gorontalo.
Sebanyak 200 orang tentara KNIL dan orang Belanda diserahkan ke komando tentara Jepang di Manado.
Pengiriman makanan ke Manado ini diterima oleh Badan Pengamat Perekonomian Rakyat yang dipimpin Arnold Mononutu.
Sebagai imbalannya, Pemerintahan Gorontalo mendapat alat pertanian dan tekstil. Sayangnya, pada 6 Juni 1942, komando tentara Jepang telah menduduki Gorontalo, melarang pengibaran bendera Merah Putih, dan membubarkan semua organisasi politik.
“Pak Nani Wartabone sempat diminta menjadi Gunco Kaigi Gico atau Jogugu, seperti kepala daerah. Namun, beliau menolaknya dan memilih untuk kembali ke pekerjaan semula sebagai petani, ia tidak mau diperalat Jepang,” tutur Merry Arsyad.
Perjuangan Masyarakat Sipil
Para tokoh Gorontalo mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 23 Januari 1942, jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Pernyataaan kemerdekaan Indonesia dilakukan di lapangan yang dihadiri banyak orang.
Lapangan ini tepat berada di depan rumah asisten residen Gorontalo, sekarang bangunan ini digunakan sebagai rumah dinas gubernur.
Di sekitar lapangan berjejer rumah-rumah pejabat Pemerintah Hindia Belanda, juga ada hotel Velberg yang beroperasi tahun 1900 di sebelah baratnya.
Deklarasi kemerdekaan ini dibaca Nani Wartabone, seorang petani tokoh masyarakat Gorontalo yang pemberani.
Dia juga sebagai ketua Komite 12, gabungan masyarakat sipil Gorontalo yang berjuang untuk kemerdekaan.
“Deklarasi kemerdekaan dibacakan Nani Wartabone di tanah lapang yang sekarang dikenal sebagai Lapangan Taruna Remaja oleh Nani Wartabone,” kata Retno Sekarningrum, sejarawan Gorontalo, pada Selasa (16/8/2022).