Senjakala Bendi Gorontalo
Setelah Bentor Kini Bendi Gorontalo Melawan Punah dari Angkutan Online
Sebagai benda cagar budaya, untuk lestari, Bendi, kusir dan kudanya butuh keberpihakan kita semua, khususnya pemerintah kota.
Penulis: Redaksi |
Disebutkan, dalam satu dekade terakhir, populasi bendi menyusut di tiga simpul transportasi utama pergerakan orang di Kota Gorontalo: Bandara Djalaluddin, Pelabuhan Laut Gorontalo dan Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.
Penyusutan juga terjadi di 4 lokasi terminal penumpang yang ada di Kota Gorontalo,: Terminal 42 Andalas (tipe A), Terminal Pusat Kota (tipe B), Terminal Moodu (tipe B), dan Terminal Leato (tipe B), serta 1 rencana lokasi terminal tipe A di Dungingi.
Padahal sejatinya, sentra ali moda (terminal) itu adalah kawasan strategis ekonomi angkutan umum.
Dalam dua dekade terakhir, preferensi atau rujukan moda transportasi utama di Kota Gorontalo adalah bentor (43,2 persen) dan sepeda motor (38,5 persen), sedangkan angkutan umum (angkot/angkudes, bus BRT/sekolah, dan bendi) sekitar 9,3 persen dan mobil pribadi sekitar 8,76 persen.
Bendi tak lagi capai 0,1 persen di tahun 2015 hingga 2016. Berkisar 0,04 persen, atau dibawah hitungan jari.
Data Samsat Kota Gorontalo hingga tahun 2017, tercatat sejumlah 83.021 Unit kenderaan berada di Kota Gorontalo.
Peneliti dan dosen Teknik dari UNG Rachmat Libunelo, menyebut beberapa daerah perbatasan Kota Gorontalo langsung seperti Bonebol memiliki 29,645 kendaraan, Kabupaten Gorontalo 83.241 kenderaan, yang juga menjadi tantangan nyata. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Bendi-Gorontalo.jpg)