Senjakala Bendi Gorontalo
Setelah Bentor Kini Bendi Gorontalo Melawan Punah dari Angkutan Online
Sebagai benda cagar budaya, untuk lestari, Bendi, kusir dan kudanya butuh keberpihakan kita semua, khususnya pemerintah kota.
Penulis: Redaksi |
Keprihatinan senada diungkapkan pemerhati sosial dan budaya Gorontalo, Rosyid A Azhar (51).
"(angkutan) Bendi berkurang karena hukum alam perubahan zaman. Dan solusinya ya keberpihakan pemerintah kota melestarikannya dan dukungan publik untuk tetap naik bendi dalam kota," ujar Rosyid kepada TribunGorontalo.com, Kamis (26/5/2022).
Mengutip dokumen laporan Asisten Residen GWWC Baron Van Hoevell tahun 1888, jumlah kuda ternak warga Gorontalo di abad 19, ada sekitar 5.380 ekor wadala (kuda).
"Ini lebih banyak dari kerbau yang cuma 4.353 ekor dan sapi 831 ekor," ujar Rosyid, yang juga penulis dan peneliti lingkungan dan budaya Gorontalo ini.
Dia menyebut bendi di perkampungan sekitar Danau Limboto sudah ada sejak abad 17. "Seperti motor matik saat ini, kuda itu ada hampir di setiap rumah warga, dan bendi jadi barang mewah."
Shofa Awwali (22), content creator media di Gorontalo, mengenang bendi sebagai angkutan publik favoritnya di awal dekade 2000-an.
Kala kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Unggulan Jl HB Jassin, Gorontalo, dia mengaku sering menyisihkan uang jajan dari ibunya untuk sekadar naik bendi.
"Saya sama nenek, naik bendi dari rumah ke Pasar Liluwo. Bayarnya waktu itu masih Rp 3000," katanya, mengenang masa indah di bangku kelas II SD.
Di masa 18 tahun lalu itu, ongkos Rp 3000 setara perjalanan sekitar 1,3 km. Durasinya 10 hingga 15 menit.
"Kan mobil masih sedikit," kenang Shofa.
Kini, untuk jarak sejauh itu dalam kota, kusir bendi Gorontalo memasang tarif Rp 10 ribu hingga Rp15 ribu.
"Kalau masih pagi murah, kalau panas habis Lohor naik sadiki'," kata kusir.
Dilansir Banthayo, situs media berita lokal Gorontalo, di tahun 2019 lalu, pendapatan harian seorang kusir bendi berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 75 ribu.
Kusir dari Kelurahan Heledulaa Utara, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Rusli Lakuo (45), mengaku jadi kusir bendi karena pilihan hidup.
"Pekerjaan ini sudah menjadi hobi," kata Rusli.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Bendi-Gorontalo.jpg)