Senjakala Bendi Gorontalo
Setelah Bentor Kini Bendi Gorontalo Melawan Punah dari Angkutan Online
Sebagai benda cagar budaya, untuk lestari, Bendi, kusir dan kudanya butuh keberpihakan kita semua, khususnya pemerintah kota.
Penulis: Redaksi |
Laporan Wartawan TribunGorontalo.com; Agung Panto dan Dinie Awwali
BENDI Gorontalo kini didera senjakala.
Alat transportasi bertenega kuda ini memang tak butuh lagi diperhitungkan melainkan diperhatikan.
Untuk lestari, Bendi, kusir dan kudanya butuh keberpihakan banyak pihak. Khususnya pemerintah kota.
Di era 1980-an, kusir angkutan umum bertenaga kuda ini mencemburui sopir Mikro BMW (biru muda warnanya), mobil angkutan penumpang antar-kabupaten.
Di akhir dekade 1990-an, kusir andong "kuda gigit besi" itu juga dipaksa zaman bersaing melawan Bentor (bendi motor).
Kini, di dekade anak millennial, awal 2020-an, para kusirnya masih harus "mewaspadai" rider angkutan online, Grab, GoJek, dan Maxim.
Kurang dari 20-an unit bendi, para kusirnya kini melawan punah.
Mereka tetap yakin, transportasi umum tertua di ibukota provinsi ini bisa bertahan dengan menyasar wisatawan kota.
"Adalah, langganan kami anak TK dan SD yang mau jalan-jalan sama guru," kata Rusli (58).
Ia adalah kusir dari Kilo 5, Tanggidaa, Utara Kota Gorontalo.
Tribun menemuinya di depan stasiun pemancar TVRI Gorontalo, Jl HB Jassin, Kota Timur, Kamis (26/5/2022).
Bendi Gorontalo kini bisa dihitung jari.
Kawasan pertokoan "Karsa Utama" di Jl S Parman, Biawao, Kota Selatan, Gorontalo, kini masih jadi pangkalan bendi kota.
"Sejak saya SD, itulah tampa' stapp (mangkal) bendi," kata Rachman Sau (28), warga Ayula, Bone Bolango, sekitar 10 km utara kota.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Bendi-Gorontalo.jpg)