Senjakala Bendi Gorontalo

Setelah Bentor Kini Bendi Gorontalo Melawan Punah dari Angkutan Online

Sebagai benda cagar budaya, untuk lestari, Bendi, kusir dan kudanya butuh keberpihakan kita semua, khususnya pemerintah kota.

Penulis: Redaksi |
TribunGOrontalo.com/AgungPanto
Potret Bendi di Jl HB Jassin, Kota Gorontalo, Kamis (26/5/2022). 

Laporan Wartawan TribunGorontalo.com; Agung Panto dan Dinie Awwali

BENDI Gorontalo kini didera senjakala.

Alat transportasi bertenega kuda ini memang tak butuh lagi diperhitungkan melainkan diperhatikan. 

Untuk lestari, Bendi, kusir dan kudanya butuh keberpihakan banyak pihak. Khususnya pemerintah kota.

Di era 1980-an, kusir angkutan umum bertenaga kuda ini mencemburui sopir Mikro BMW (biru muda warnanya), mobil angkutan penumpang antar-kabupaten.

Di akhir dekade 1990-an, kusir andong "kuda gigit besi" itu juga dipaksa zaman bersaing melawan Bentor (bendi motor).

Kini, di dekade anak millennial, awal 2020-an, para kusirnya masih harus "mewaspadai" rider angkutan online, Grab, GoJek, dan Maxim.

Kurang dari 20-an unit bendi, para kusirnya kini melawan punah.

Mereka tetap yakin, transportasi umum tertua di ibukota provinsi ini bisa bertahan dengan menyasar wisatawan kota.

"Adalah, langganan kami anak TK dan SD yang mau jalan-jalan sama guru," kata Rusli (58).

Ia adalah kusir dari Kilo 5, Tanggidaa, Utara Kota Gorontalo.

Tribun menemuinya di depan stasiun pemancar TVRI Gorontalo, Jl HB Jassin, Kota Timur, Kamis (26/5/2022).

Bendi Gorontalo kini bisa dihitung jari. 

Kawasan pertokoan "Karsa Utama" di Jl S Parman, Biawao, Kota Selatan, Gorontalo, kini masih jadi pangkalan bendi kota.

"Sejak saya SD, itulah tampa' stapp (mangkal) bendi," kata Rachman Sau (28), warga Ayula, Bone Bolango, sekitar 10 km utara kota.

Keprihatinan senada diungkapkan pemerhati sosial dan budaya Gorontalo, Rosyid A Azhar (51).

"(angkutan) Bendi berkurang karena hukum alam perubahan zaman. Dan solusinya ya keberpihakan pemerintah kota melestarikannya dan dukungan publik untuk tetap naik bendi dalam kota," ujar Rosyid kepada TribunGorontalo.com, Kamis (26/5/2022).

Mengutip dokumen laporan Asisten Residen GWWC Baron Van Hoevell tahun 1888, jumlah kuda ternak warga Gorontalo di abad 19, ada sekitar 5.380 ekor wadala (kuda).

"Ini lebih banyak dari kerbau yang cuma 4.353 ekor dan sapi 831 ekor," ujar Rosyid, yang juga penulis dan peneliti lingkungan dan budaya Gorontalo ini.

Dia menyebut bendi di perkampungan sekitar Danau Limboto sudah ada sejak abad 17. "Seperti motor matik saat ini, kuda itu ada hampir di setiap rumah warga, dan bendi jadi barang mewah." 

Shofa Awwali (22), content creator media di Gorontalo, mengenang bendi sebagai angkutan publik favoritnya di awal dekade 2000-an.

Kala kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Unggulan Jl HB Jassin, Gorontalo, dia mengaku sering menyisihkan uang jajan dari ibunya untuk sekadar naik bendi.

"Saya sama nenek, naik bendi dari rumah ke Pasar Liluwo. Bayarnya waktu itu masih Rp 3000," katanya, mengenang masa indah di bangku kelas II SD.

Di masa 18 tahun lalu itu, ongkos Rp 3000 setara perjalanan sekitar 1,3 km. Durasinya 10 hingga 15 menit.

"Kan mobil masih sedikit," kenang Shofa.

Kini, untuk jarak sejauh itu dalam kota, kusir bendi Gorontalo memasang tarif Rp 10 ribu hingga Rp15 ribu.

"Kalau masih pagi murah, kalau panas habis Lohor naik sadiki'," kata kusir.

Dilansir Banthayo, situs media berita lokal Gorontalo, di tahun 2019 lalu, pendapatan harian seorang kusir bendi berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 75 ribu.

Kusir dari Kelurahan Heledulaa Utara, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Rusli Lakuo (45), mengaku jadi kusir bendi karena pilihan hidup.

"Pekerjaan ini sudah menjadi hobi," kata Rusli.

Kisaran pendapatan harian itu, sejak empat tahun lalu, tak jauh bergeser.

Sekadar perbandingan, di masa pendemi ini dan transisi endemi COVID-19, ini jarak tempuh 1 km dari angkutan online di Gorontalo, masih kompetitif.

Bentor Grab misalnya untuk 1 km seharga Rp10 ribu. Gojek Rp11 ribu, dan Maxim Rp8000.

Tarif itu merujuk aplikasi transportasi online itu, di kawasan timur Indonesia.

Di Gorontalo, sekitar 2018 ada perda khusus kota, perusahaan jasa angkutan online tetap harus memasukkan juru bentor sebagai mitra. 

"Jadi kalau pesan Grab motor yang datang bisa bentor," ujar Rocky (23), juru bentor Gorontalo.

Pemerintah kota memang tak menutup mata atas nasib bendi sebagai moda transportasi jadul Gorontalo.

Sebagai otoritas pelestari budaya dan penjaga marwah sosial kota, Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea (2008-2013) sudah mendesain program resmi pelestarian bendi kota.

Melalui staf ahlinya, Tommy Yahya, medio 2009 silam, Adhan memberi bantuan kursus singkat bahasa Inggris dan adab menjamu turis ke sekitar 30-an kusir bendi kota.

Pemerintah juga berkolaborasi dengan manajemen Hotel Quality di Jl DI Panjaitan, Kelurahan Ipilo, Gorontalo di untuk mengarahkan turis asing dan domestik untuk "naik delman keliling kota tua".

Di tahun 2019, pada periode akhir pertama Walikota Marten Taha (2014-2023), juga melihat bendi sebagai potensi moda transportasi wisata.

Ketua DPD Golkar Kota Gorontalo itu mengupayakan revitalisasi bendi Gorontalo. Dia mewajibkan kusir menyiapkan "karung pada kotoran wadala (kuda) bendi,  agar tak mengotori jalan dan pangkalan bendi. 

Victor Musa (52), warga Telaga, Limboto, bahkan mengusulkan agar walikota Marten Taha dan bupati Gorontalo Nelson Pomalingo, juga mengakomodir dan memfasilitasi bendi Gorontalo masuk dalam aplikasi angkutan online.

"Kan sebagai regulator, bisa minta ke Nadiem Makarim (owner Gojek sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), bendi masuk aplikasi," ujar sarjana hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.

Tahun 2016 lalu, Win Akustia, peneliti  dari Puslitbang Manajemen Transportasi Multimoda Kemenhub melansir, persentase jumlah bendi di Gorontalo, tak lagi mewakili anasir moda transportasi kota.

Disebutkan, dalam satu dekade terakhir, populasi bendi menyusut di tiga simpul transportasi utama pergerakan orang di Kota Gorontalo: Bandara Djalaluddin, Pelabuhan Laut Gorontalo dan Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.

Penyusutan juga terjadi di  4 lokasi terminal penumpang yang ada di Kota Gorontalo,: Terminal 42 Andalas (tipe A), Terminal Pusat Kota (tipe B), Terminal Moodu (tipe B), dan Terminal Leato (tipe B), serta 1 rencana lokasi terminal tipe A di Dungingi.

Padahal sejatinya, sentra ali moda (terminal) itu adalah kawasan strategis ekonomi angkutan umum.

Dalam dua dekade terakhir, preferensi atau rujukan moda transportasi utama di Kota Gorontalo adalah bentor (43,2 persen) dan sepeda motor (38,5 persen), sedangkan angkutan umum (angkot/angkudes, bus BRT/sekolah, dan bendi) sekitar 9,3 persen dan mobil pribadi sekitar 8,76 persen.

Bendi tak lagi capai 0,1 persen di tahun 2015 hingga 2016.  Berkisar 0,04 persen, atau dibawah hitungan jari.

Data Samsat Kota Gorontalo hingga tahun 2017, tercatat sejumlah 83.021 Unit kenderaan berada di Kota Gorontalo. 

Peneliti dan dosen Teknik dari UNG  Rachmat Libunelo, menyebut beberapa daerah perbatasan Kota Gorontalo langsung seperti Bonebol memiliki 29,645 kendaraan, Kabupaten Gorontalo 83.241 kenderaan, yang juga menjadi tantangan nyata. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved