Konflik Rusia Vs Ukraina

Inggris Dukung Kiev Serang Tanah Rusia, Moskwa Ancam Bubarkan Ukraina 

Perang Rusia dan Ukraina bakal berkepanjangan. Rusia memperingatkan Inggris pada Selasa (26/4/2022)

Editor: Lodie Tombeg
AP PHOTO/ALEXEI ALEXANDROV
Kendaraan militer Rusia bergerak di jalan raya di daerah yang dikuasai oleh pasukan separatis dukungan Rusia di dekat Mariupol, Ukraina, Senin, 18 April 2022. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Moskow – Perang Rusia dan Ukraina bakal berkepanjangan. Rusia memperingatkan Inggris pada Selasa (26/4/2022), bahwa jika terus memprovokasi Ukraina untuk menyerang sasaran di Rusia maka akan ada "tanggapan proporsional" segera.

Kementerian Pertahanan Rusia mengutip pernyataan dari Menteri Angkatan Bersenjata Inggris James Heappey yang mengatakan kepada radio BBC, bahwa sepenuhnya sah bagi Ukraina untuk memburu target di kedalaman Rusia untuk mengganggu jalur logistik dan pasokan.

“Kami ingin menggarisbawahi bahwa provokasi langsung London terhadap rezim Kiev ke dalam tindakan seperti itu, jika tindakan tersebut dilakukan, akan segera mengarah pada respons proporsional kami,” kata Kementerian Pertahanan Rusia.

“Seperti yang telah kami peringatkan, Angkatan Bersenjata Rusia siap sepanjang waktu untuk meluncurkan serangan balasan dengan senjata jarak jauh berpresisi tinggi di pusat pengambilan keputusan di Kiev,” tambah pernyataan Kementerian, dilansir dari Reuters.

Kementerian Pertahanan juga mengatakan bahwa serangan Rusia semacam tidak akan menjadi masalah untuk dilakukan jika perwakilan dari negara Barat tertentu ditempatkan di pusat pengambilan keputusan Ukraina.

Heappey dari Inggris sebelumnya mengatakan adalah sah bagi Ukraina untuk menyerang jalur logistik Rusia dan pasokan bahan bakar.

Dia juga mengakui senjata yang sekarang disediakan komunitas internasional memiliki jangkauan untuk digunakan di Rusia. Dikutip dari Russia Today (RT), Inggris menjadi salah satu negara pemasok senjata utama Kiev.

Inggris telah menuangkan ribuan rudal anti-tank ke negara itu menjelang operasi militer Rusia skala besar yang dimulai pada akhir Februari.

Perdana Menteri Boris Johnson baru-baru ini mengumumkan paket persenjataan berat tambahan senilai 100 juta pound sterling (130 juta dollar AS) untuk Kiev, yang mencakup senjata anti-pesawat, drone, dan berbagai kendaraan lapis baja.

Moskwa telah memperingatkan Barat agar tidak meningkatkan pasokan senjata.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa konflik telah secara efektif berubah menjadi "perang proxy" yang dilancarkan NATO melawan Rusia.

Rusia telah berulang kali menargetkan depot tempat persediaan senjata dikumpulkan dan akan terus melakukannya. “Senjata-senjata ini akan menjadi target yang sah untuk Angkatan Bersenjata Rusia,” kata Lavrov.

“Gudang, termasuk di barat Ukraina, telah menjadi target lebih dari sekali. Bagaimana lagi? NATO pada dasarnya akan berperang dengan Rusia melalui proxy dan mempersenjatai proxy itu. Perang berarti perang,” jelas dia.

Rusia Peringatkan Ukraina Bisa Dibubarkan Jadi Beberapa Negara Bagian

Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolay Patrushev memperingatkan, bahwa kebijakan yang diambil oleh Barat dan "rezim Kyiv" yang dikendalikan mereka pada akhirnya dapat mengakibatkan Ukraina berantakan dan tidak lagi ada sebagai negara bersatu.

“Tidak menemukan cara positif untuk memenangkan Ukraina ke pihaknya, AS, jauh sebelum kudeta 2014, telah membujuk Ukraina tentang supremasi bangsa mereka dan kebencian terhadap segala sesuatu yang Rusia,” kata dia kepada surat kabar Rossiyskaya Gazeta dalam sebuah wawancara eksklusif.

Kutipan Patrushev diterbitkan pada Selasa (26/4/2022).

Menurut dia, hari ini, orang-orang yang tinggal di Ukraina disatukan hanya oleh ketakutan akan batalion nasionalis.

"Kebijakan Barat dan rezim Kyiv yang dikendalikannya seperti itu hanya dapat mengakibatkan disintegrasi Ukraina menjadi beberapa negara bagian," ungkap Patrushev, dilansir dari Russia Today (RT).

Sementara Barat secara kolektif berusaha untuk memperpanjang konflik antara Rusia dan Ukraina selama mungkin, dia mengeklaim, Moskwa ingin menyelesaikan permusuhan lebih cepat daripada nanti untuk meminimalkan kerusakan yang terjadi pada kedua belah pihak.

"Tidak mengherankan bahwa, tidak seperti Rusia, yang tertarik pada penyelesaian cepat operasi militer khusus dan meminimalkan kerugian dari semua pihak, Barat bertekad untuk menyeretnya sampai Ukraina terakhir,” katanya.

"Kompleks industri militer di Barat adalah salah satu penerima manfaat utama dari konflik yang berkepanjangan," tuding pejabat itu.

Dia menyebut aliran persenjataan yang masuk ke Ukraina sebagian besar didorong oleh keinginan Barat untuk mendapat untung.

“Kompleks industri militer Amerika dan Eropa bersukacita, karena berkat krisis di Ukraina, tidak ada habisnya pesanan yang terlihat,” kata Patrushev.

Rusia diketahui telah menyerang negara Ukraina sejak akhir Februari. Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Di sisi lain, Ukraina menegaskan bahwa serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua republik (Donetsk dan Luhansk) dengan paksa. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Inggris Dukung Ukraina Serang Tanah Rusia, Moskwa Keluarkan Peringatan"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved