Konflik Rusia Vs Ukraina
Taktik 'Tabrak Lari' Ukraina: Kapal Perang Rusia Orsk Meledak di Laut Azov
Ukraina mampu mengimbangi monopoli pasukan Rusia di medan perang. Tak 'tabrak lari' jitu menghalau gerak pasukan beruang merah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/260322-senjata-modern.jpg)
Ada perbedaan besar dalam semangat juang antara kedua pasukan. Ukraina berjuang untuk kelangsungan hidup negara mereka sebagai negara berdaulat, sembari terkejut dengan pernyataan Putin bahwa Ukraina pada dasarnya hanyalah ciptaan Rusia.
Rakyat Ukraina mendukung pemerintah dan presiden mereka. Karena itu, warga yang tidak berpengalaman militer pun siap mengangkat senjata untuk mempertahankan kota-kota mereka meskipun harus menghadapi persenjataan Rusia yang luar biasa.
"Beginilah cara orang berjuang untuk eksistensi mereka," kata Tom Foulkes, eks-perwira Angkatan Darat Inggris di Jerman selama masa Dingin.
"Ini adalah cara mereka membela tanah air dan keluarga mereka. Keberanian mereka mengejutkan sekaligus luar biasa." Dalam praktiknya, perlawanan warga telah membuat pasukan Ukraina leluasa bertempur di garis depan, setelah mengetahui kota-kota mereka memiliki pertahanan yang bisa diandalkan.
Sebaliknya, banyak tentara Rusia yang dikirim untuk berperang di Ukraina adalah wajib militer yang baru saja lulus dari sekolah. Mereka kebingungan dan kewalahan ketika mendapati diri mereka di zona perang padahal mereka mengira hanya akan menjalani latihan.
Sebagian besar tentara Rusia hanya sedikit atau tidak sama sekali mempersiapkan diri untuk keganasan pertempuran yang mereka temui di medan perang. Ada beberapa laporan tentang desersi, kekurangan makanan, dan penjarahan.
Ekspektasi di awal perang tentang serangan siber Rusia yang melumpuhkan komunikasi Ukraina tidak terjadi. Sebaliknya, Ukraina entah bagaimana berhasil mempertahankan koordinasi yang efektif antar-medan perang, bahkan di tempat mereka kalah.
Pemerintah Ukraina tetap di Kyiv dan sangat terlihat, dengan bahkan wakil perdana menterinya mengenakan kaus model khaki saat berbicara kepada rakyat dengan latar lambang pemerintah. Sebaliknya, tentara Rusia tampaknya tidak punya kepemimpinan yang terpadu, dengan sedikit koordinasi antara medan-medan perang yang terpisah.
Ini kemungkinan besar berdampak negatif pada semangat juang pasukan Rusia. Banyak orang bilang laporan kematian atas setidaknya lima jenderal Rusia sebagian akibat mereka harus mendekati medan pertempuran untuk menggerakkan pasukannya supaya tidak mandek. Pada tentara golongan bintara, yaitu kopral dan sersan, doktrin militer Rusia hampir sama sekali tidak memungkinkan adanya inisiatif, dengan jajaran bawah selalu menunggu perintah dari atas.
Profesor Michael Clarke, seorang pakar militer di King's College London, mengatakan bintara Rusia dilanda korupsi dan inefisiensi dan sangat tidak populer di antara pasukan mereka sendiri.
Pasukan Ukraina sangat kalah jumlah namun mereka telah memanfaatkan posisi dan senjata mereka jauh lebih baik daripada lawan mereka.
Sementara Rusia cenderung memusatkan pasukan mereka dalam barisan kendaraan lapis baja yang lambat dan berat, seringkali berkerumun berdekatan, Ukraina berhasil melakukan taktik tabrak lari yang dieksekusi dengan baik, menyelinap dan menembakkan rudal anti-tank, kemudian menghilang sebelum Rusia dapat membalas tembakan.
Sebelum invasi, pelatih militer NATO dari AS, Inggris, dan Kanada menghabiskan waktu lama di Ukraina, mengajarkan pasukannya taktik-taktik terbaru perang defensif dan cara-cara memanfaatkan sistem rudal canggih seperti Javelin atau senjata anti-tank NLAW yang dirancang Swedia, atau versi terbaru dari rudal anti-pesawat Stinger.
"Ukraina jauh lebih cerdik daripada Rusia," kata Prof Clarke, "karena mereka telah melawan dengan sesuatu yang lebih mirip dengan operasi senjata gabungan sedangkan Rusia belum".
Maksudnya adalah mereka telah memanfaatkan sepenuhnya semua alat militer yang mereka miliki, seperti drone, artileri, infanteri, tank dan perang elektronik. Perbesar Upaya Ukraina memukul mundur Rusia.