Konflik Rusia Vs Ukraina

Pertahanan Kiev Kukuh: Tiga Senjata NATO Ini Teror Pasukan Rusia

Perang teknologi militer dipertontonkan pada aksi invasi Rusia ke Ukraina. Sebaliknya Kiev yang mendapatkan pasokan senjata.

Editor: Lodie Tombeg
SERGEI SUPINSKY/kompas.com
Prajurit Pasukan Militer Ukraina memindahkan Rudal FIM-92 Stinger buatan AS, sistem pertahanan udara portabel-man (MANPADS), yang beroperasi sebagai rudal permukaan-ke-udara (SAM) pelacak inframerah, dan bantuan militer lainnya yang dikirim dari Lituania ke Bandara Boryspil di Kyiv pada Minggu (13/2/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Kiev - Perang teknologi militer dipertontonkan pada aksi invasi Rusia ke Ukraina. Sebaliknya Kiev yang mendapatkan pasokan senjata dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO dan Amerika Serikat kukuh hadapai lawan.

Tiga senjata NATO pun menjadi teror mematikan bagi pasukan Rusia. Memasuki minggu keempat serangan Rusia ke Ukraina, Moskwa gagal mencapai tujuan utamanya.

Padahal, hampir 200.000 tentara dan ribuan kendaraan lapis baja yang didukung oleh pesawat tempur dan kapal perang telah “dipajang” di perbatasan sebelum invasi.

Militer Rusia mengharapkan “kampanye blitzkrieg” ke negara tetangganya hanya akan berlangsung 48 hingga 72 jam, dengan keyakinan Ukraina akan menyerah dengan cepat.

Menurut Analis Militer Barat Akan tetapi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memimpin perlawanan sengit. Pusat-pusat kota besar termasuk ibu kota Kiev, tetap berada di tangan Ukraina hingga kini, kondisi yang mengejutkan Moskwa dan bahkan dunia.

Kegigihan dan pengetahuan Ukraina tentang medan perang telah memainkan peran besar dalam pertahanan efektif mereka.

220322-Senjata anti-tank
Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina memegang senjata anti-tank di pinggiran Kyiv, Ukraina, Rabu, 9 Maret 2022.

Namun selain itu, pasokan senjata dari NATO dan Uni Eropa juga memainkan peran penting dalam menghambat kemajuan Rusia.

Ukraina telah menerima senjata senilai miliaran dollar AS dari Barat, di antara bantuan itu tiga sistem senjata menonjol menurut laporan Business Insider.

Sejak invasi dimulai, FGM-148 Javelin dan FIM-92 Stingers buatan AS, dan Next Generation Light Anti-Tank Weapon (NLAW) yang dirancang oleh Inggris dan Swedia telah menjadi teror pasukan Rusia.

Rusia menggunakan regu batalion taktis (BTG) terdiri dari tank dan kendaraan lapis baja.

Sebagian besar formasi mekanis menggunakan senjata berat untuk mengatasi perlawanan. Namun, batalion itu rentan terhadap pertahanan anti-tank seperti Javelin.

Peluru kendali yang dapat digunakan kembali itu memiliki dua bagian: tabung peluncuran dan unit pengarah luncuran, yang memiliki kontrol dan optik untuk penggunaan siang dan malam.

Moncong rudal Javelin memiliki sistem panduan inframerah homing. Ini memungkinkan operator menembakkan senjata dan kemudian berpindah untuk menghindari serangan balasan.

Javelin tidak murah, masing-masing tembakkan harganya hampir 200.000 dolar AS (Rp 2,8 miliar).

“Jadi pengguna tidak bisa sembarangan menembakkannya," kata pasukan Baret Hijau yang ditugaskan ke unit Garda Nasional AS kepada Insider.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved