konflik Rusia Vs Ukraina
Militer Pecah, Jenderal Kelima Rusia Tewas di Ukraina
Perang saudara antara Rusia dan Ukraina memunculkan kontroversi di internal militer negara beruang merah.
Seorang pejabat senior militer Inggris mengatakan sebagian besar investasi Rusia telah dihabiskan untuk persenjataan dan eksperimen nuklirnya yang luas, termasuk mengembangkan senjata baru seperti rudal hipersonik. Rusia seharusnya telah memiliki tank paling canggih di dunia, T-14 Armata.
Armada buatannya itu terlihat di Parade Hari Kemenangan Moskwa di Lapangan Merah, tapi tidak terlihat dalam pertempuran.
Sebagian besar yang dikerahkan Rusia adalah tank T-72 yang lebih tua, pengangkut personel lapis baja, artileri, dan peluncur roket.
Pada awal invasi, Rusia memiliki keuntungan yang jelas di udara.
Pesawat tempur militer Rusia bergerak di dekat perbatasan, tiga banding satu jumlah angkatan udara Ukraina. Sebagian besar analis militer berasumsi bahwa pasukan penyerang akan dengan cepat memperoleh keunggulan dari udara, tetapi ternyata tidak.
Pertahanan udara Ukraina masih terbukti efektif, membatasi kemampuan Rusia untuk bermanuver. Seorang pejabat senior intelijen Barat mengatakan kepada BBC bahwa Rusia berpikir dapat mendominasi dengan mengerahkan unit-unit yang lebih ringan.
Penggunaan ujung tombak pertahanan, seperti Spetsnaz dan pasukan terjun payung VDV, akhirnya dikesampingkan.
Namun dalam beberapa hari pertama serangan helikopter Rusia di Bandara Hostomel, tepat di luar Kyiv, berhasil digagalkan. Ini menghalangi Rusia membawa pasukan, peralatan dan pasokan.
Rusia akhirnya harus mengangkut logistiknya sebagian besar melalui jalan darat. Kegagalan itu membuat kemacetan lalu lintas hingga menciptakan “titik kumpul” armada, yang kemudian menjadi sasaran empuk bagi pasukan Ukraina untuk menyergap.
Beberapa kendaraan baja militer Rusia sempat keluar dari jalan utama Ukraina, namun mereka justru terjebak dalam lumpur.
Gambaran ini memperkuat citra “macetnya operasi militer Rusia”. Sementara itu, barisan lapis baja panjang Rusia dari utara yang ditangkap oleh satelit masih gagal mengepung Kiev.
Kemajuan yang paling signifikan datang dari selatan, di mana ia mampu menggunakan jalur kereta api untuk memasok pasukannya.
Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, mengatakan kepada BBC bahwa pasukan Presiden Putin "telah kehilangan momentum. Mereka terjebak dan perlahan tapi pasti menderita kerugian signifikan."
Kemerosotan moral personel Rusia mengumpulkan sekitar 190,00 kekuatan pasukannya di perbatasan selama beberapa minggu sebelum serangan ke Ukraina. Sebagian besar dari mereka berkomitmen untuk pertempuran, tapi dilaporkan kini sekitar 10 persen dari kekuatan itu sudah hilang.
Tidak ada angka yang dapat dijadikan acuan untuk skala kerugian Rusia atau Ukraina. Ukraina mengklaim telah membunuh 14.000 tentara Rusia, meskipun AS memperkirakan jumlahnya mungkin hanya setengah dari itu.