Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: Kembali ke Fitrah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Makna Idul Fitri bukan sekadar kembali makan dan minum, tetapi kembali ke fitrah: hati yang bersih, suci, dan jati diri yang luhur setelah Ramadan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Menteri-Agama-Prof-KH-Nasaruddin-Umar-fff.jpg)
Semoga energi baru ini mampu memproteksi kita terhadap berbagai godaan iblis, seperti kembali mengoleksi dosa-dosa langganan, kembali ringan tangan dan bermulut tajam.
Kita berharap selama sebulan penuh kita melakukan amaliah Ramadan menimbulkan dampak positif pada orang-orang terdekat kita.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Menangis
Bagaimana pembantu, sopir, tukang kebun, satpam, dan karyawan kita merasakan perubahan di dalam diri kita.
Misalnya mereka merasakan tuan dan nyonyanya tidak lagi gampang marah, tidak lagi pelit, tidak lagi ringan tangan, tidak lagi kasar, serta tidak lagi sombong dan angkuh.
Tetangga juga merasakan adanya perubahan drastis seusai Ramadan.
Demikian pula suasana batin di kantor muncul perubahan drastis pasca Ramadan. Inilah sesungguhnya yang dinamakan Ramadan Mubarak dan Ramadan Mabrur.
Dalam pandangan tasawuf, fitrah berarti kembali ke jati diri yang paling asli.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Menggapai Pribadi Qana’ah
Jika seseorang betul-betul bersih dan pensucian dirinya diterima Allah Swt., maka yang bersangkutan bisa membuka berbagai tabir yang selama ini menghijab dirinya berupa dosa dan maksiat.
Ia akan mengalami penyingkapan (mukasyafah).
Dengan demikian, ia mempunyai kemampuan untuk mengakses alam gaib, minimal alam barzah, yaitu perbatasan antara alam syahadah dan alam gaib.
Orang yang diberi kesadaran mukasyafah bisa merasakan kedekatan diri dengan Tuhan dan para sahabat Tuhan seperti Nabi Muhammad dan para salihin lainnya.
Ia akan memiliki sahabat-sahabat spiritual sejati, sehingga ia tidak pernah merasa kesepian.
Ia selalu hangat dengan cinta Tuhan.
Semoga tahun ini kita betul-betul diberi kesadaran dan keinsafan penuh sehingga kita bisa mencicipi mukasyafah.
Semoga kita tidak jatuh lagi di lumpur dosa dan maksiat. (*)