Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: I’tikaf oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
I’tikaf di masjid pada Ramadan menjadi momen muhasabah, dzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Menteri-Agama-Prof-Dr-KH-Nasaruddin-Umar-MA-99999.jpg)
I’tikaf orang khawas lebih dari sekadar itu; bukan mengejar target-target kuantitas misalnya banyaknya rakaat shalat yang harus dilakukan, banyaknya juz Al-Qur’an yang dibaca, dan hebatnya penceramah yang ia dengar.
Yang penting bagi khawashul mu’takifin ialah kualitas mujahadah yang dapat diraih.
Kalau perlu yang bersangkutan menembus tingkatan mukasyafah yaitu membuka hijab atau tabir yang selama ini menghalangi.
I’tikaf bisa mengantarkan seseorang kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi sehingga kemabruran Ramadhan terpancar selalu di wajah orang ini seusai Ramadan.
I’tikaf betul-betul menjadi momentum untuk menggunting dosa-dosa langganannya sehingga ia tampil beda seusai kembali ke hari Idul Fitri.
Beruntunglah orang-orang yang berhasil meraih prestasi i’tikaf sejati seperti ini.
Kita berharap dan sekaligus bermohon agar i’tikaf kita kali ini lebih intensif dan efektif.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Sahabat Spiritual atau Shuhbah
Kualitas i’tikaf dapat diukur seberapa tenang dan pasrah pikiran dan hati di dalam menjalankannya.
Terkadang tidak terasa kita berada pada ujung malam tanpa sedikit pun merasakan rasa ngantuk dan kelelahan.
I’tikaf dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan sama sekali tidak dirasakan lagi sebagai suatu beban.
Berbagai ibadah yang dilakukan di dalamnya menyenangkan, seperti tadarrus Alquran dan berbagai shalat sunnah.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Penanganan Ujaran Kebencian Atau Hate Speech
Jiwa lembut, hati putih, pikiran lurus, dan akhlak karimah betul-betul terasa di dalam diri yang bersangkutan.
Semoga kita bisa meraih indahnya i’tikaf.
Di dalam masyarakat modern, terutama yang tinggal di perkotaan, sudah selayaknya memprogram diri untuk mengikuti i’tikaf, baik i’tikaf mandiri secara perorangan maupun berjamaah.
Ini penting untuk memberikan ruang istirahat kepada rohani atau batin seseorang guna meraih kesegaran kembali setelah dilelahkan oleh berbagai urusan dunia. (*)