Ramadan 2026
Cara Mengatasi Bau Mulut saat Berpuasa, Tips Dokter Zaidul Akbar
Menjaga napas tetap segar merupakan tantangan tersendiri bagi umat Muslim selama menjalankan ibadah puasa
Ringkasan Berita:
- Bau mulut (halitosis) adalah keluhan kesehatan tertinggi selama Ramadan (25 persen), melampaui asam lambung dan dehidrasi
- Secara medis, hal ini dipicu oleh berkurangnya produksi air liur yang menyebabkan bakteri penyebab bau berkembang biak di mulut yang kering
- Menurut dr. Zaidul Akbar, bau mulut bukan sekadar masalah kebersihan gigi, melainkan cerminan kondisi pencernaan yang bermasalah. Pola makan buruk menyebabkan pembusukan makanan di usus yang memicu gas beraroma tidak sedap
TRIBUNGORONTALO.COM – Menjaga napas tetap segar merupakan tantangan tersendiri bagi umat Muslim selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Berdasarkan data kesehatan, bau mulut atau halitosis menjadi keluhan utama yang paling sering dirasakan dibandingkan masalah kesehatan lainnya.
Masalah ini bukan sekadar urusan estetika, melainkan juga berkaitan erat dengan rasa percaya diri saat harus berinteraksi sosial di siang hari.
Banyak orang merasa minder ketika harus berbicara dalam jarak dekat karena khawatir aroma napas mereka mengganggu orang lain.
Padahal, secara medis, kondisi ini memiliki penjelasan yang sangat logis terkait mekanisme kerja tubuh manusia saat tidak mendapatkan asupan cairan.
Survei yang dilakukan oleh Honestdocs.id terhadap 11.740 responden memperkuat fakta ini dengan temuan yang cukup mengejutkan.
Tercatat bahwa keluhan bau mulut mencapai angka 25 persen, yang menjadikannya masalah kesehatan tertinggi selama masa berpuasa.
Persentase tersebut bahkan melampaui masalah asam lambung yang hanya berada di angka 17,8 persen.
Selain itu, keluhan dehidrasi berada di angka 17 persen dan sakit kepala menyusul di angka 13,3 persen.
Baca juga: Menu Buka Puasa di Masjid Darul Arqam Gorontalo Selama Ramadan, 100 Porsi Setiap Hari
Secara ilmiah, bau mulut saat puasa terjadi karena menurunnya produksi saliva atau air liur di dalam rongga mulut kita.
Saliva memiliki peran krusial sebagai pembersih alami yang bertugas menekan pertumbuhan bakteri jahat secara konstan.
Ketika kita berpuasa dan tidak minum dalam waktu lama, aliran air liur ini berkurang drastis sehingga mulut menjadi kering.
Kondisi mulut yang kering inilah yang menjadi "surga" bagi bakteri penyebab bau mulut untuk berkembang biak dengan cepat.
Bakteri-bakteri tersebut kemudian memproses sisa protein dan menghasilkan senyawa sulfur yang aromanya sangat tidak sedap.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Seorang-pria-menutup-hidung.jpg)