Jumat, 27 Maret 2026

Info Cuaca Gorontalo

BMKG Prediksi Awal Kemarau di Gorontalo, Ini Jadwal dan Dampaknya

Kondisi ini menandai masuknya fase pancaroba, yakni masa peralihan yang ditandai dengan cuaca tidak stabil, panas mulai meningkat, namun hujan

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto BMKG Prediksi Awal Kemarau di Gorontalo, Ini Jadwal dan Dampaknya
TribunGorontalo.com
CUACA -- Potret pesisir Selatan Gorontalo siang ini, Kamis (26/3/2026). Tampak matahari cerah siang tadi pukul 12.30 Wita. 
Ringkasan Berita:
  • Gorontalo mulai memasuki masa pancaroba yang ditandai dengan cuaca tidak menentu dan peningkatan suhu udara. 
  • Meski curah hujan mulai berkurang, beberapa wilayah masih berpotensi diguyur hujan akibat faktor lokal. 
  • BMKG memperkirakan musim kemarau akan dimulai dalam waktu dekat dengan puncak pada Agustus hingga September.

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Perubahan pola cuaca mulai terasa di Gorontalo menjelang April 2026.

Kondisi ini menandai masuknya fase pancaroba, yakni masa peralihan yang ditandai dengan cuaca tidak stabil, panas mulai meningkat, namun hujan masih bisa turun sewaktu-waktu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut periode ini sebagai fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada suhu udara, tetapi juga memengaruhi pola curah hujan di berbagai wilayah.

Baca juga: Gebyar Ketupat Gorontalo, Ada Lomba Ketinting Siap Ramaikan Pesisir Leato Selatan

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo, Cucu Kusmayancu, menjelaskan bahwa April secara klimatologis merupakan masa peralihan yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo.

"Secara Klimatologis, bulan april adalah masa peralihan (pancaroba) di Indonesia termaksud di wilayah Gorontalo," ujarnya saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Kamis (26/3/2026).

Dalam periode ini, intensitas hujan secara umum mulai menurun. Namun, kondisi tersebut tidak merata di semua wilayah Gorontalo.

Daerah tertentu, terutama bagian selatan, masih memiliki peluang diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Menurut Cucu, hujan di wilayah tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yang dapat memicu turunnya hujan secara tiba-tiba.

MUSIM KEMARAU -- Terik matahari di pesisir selatan Gorontalo, Kelurahan Leato Selatan,
MUSIM KEMARAU -- Terik matahari di pesisir selatan Gorontalo, Kelurahan Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Kamis (26/3/2026).

Sementara itu, wilayah Gorontalo bagian utara mulai menunjukkan ciri musim kering dengan suhu yang terasa lebih panas.

Ia juga mengungkapkan bahwa kemunculan musim kemarau dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer.

Salah satunya adalah pergerakan angin timuran yang membawa massa udara kering dari Australia ke wilayah Indonesia.

"Penyebab kemarau yaitu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti angin timuran dan pergeseran matahari," katanya.

Selain itu, pergeseran posisi matahari ke belahan bumi utara meningkatkan intensitas radiasi matahari yang diterima wilayah Indonesia, khususnya bagian tengah dan selatan.

Kondisi ini turut menyebabkan suhu udara menjadi lebih tinggi.

BMKG memperkirakan awal musim kemarau di Gorontalo akan dimulai dalam waktu dekat, yakni sekitar Mei hingga Juni.

Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September.

Meski demikian, Cucu menegaskan bahwa dampak musim kemarau tidak akan dirasakan secara seragam di seluruh wilayah Gorontalo.

"Gorontalo pastinya akan berdampak, namun tergantung karakteristik wilayahnya," ungkap Cucu.

Perbedaan kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lokal yang cukup kuat. Bahkan, di wilayah selatan, hujan masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

"Pada bulan april gorontalo bagian selatan masih akan mengalami hujan. dimana dari data normal 30 tahun puncak musim hujan di wilayah selatan Gorontalo adalah pada bukan Mei, dan puncak musim kemarau pada bulan Agustus - september," paparnya.

Dari sisi suhu, kondisi udara selama pancaroba hingga awal kemarau diperkirakan cukup tinggi.

BMKG mencatat suhu berkisar antara 32 hingga 34 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan antara 50 hingga 90 persen.

Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan tersebut membuat udara terasa lebih panas dan gerah, terutama pada siang hari.

Menghadapi kondisi ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, baik dari sisi kesehatan maupun potensi kebakaran.

"Minum air minimal 2-3 liter/hari, gunakan topi dan sunscreen saat berada diluar ruangan serta hindari pembakaran lahan yang beresiko karhutlah," pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved