Kecelakaan Maut Minsel
Pesan Terakhir Dua Kakak Beradik Asal Gorontalo Korban Kecelakaan di Minsel Sulut
Duka mendalam masih menyelimuti keluarga dua kakak beradik asal Kota Gorontalo yang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/RUMAH-DUKA-Suasana-rumah-duka-kakK-beradik-meninggal-kecelakaan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Cerita dua kakak beradik yang meninggal kecelakaan di Minsel, Sulut.
- Sang adik ceritakan keduanya meningalkan pesan terakhir, dikirim sebelum kecelakan terjadi
- Pesan itu dikirim sebelum lebaran, rupanya mengisyaratkan sesuatu
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga dua kakak beradik asal Kota Gorontalo yang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Sabtu (14/3/2026).
Di balik peristiwa tragis itu, tersimpan cerita haru yang kini terus dikenang keluarga.
Sepekan sebelum kejadian, dua korban, Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, sempat mengirimkan pesan tak biasa kepada sang ibu.
Baca juga: Fakta Baru Kecelakaan Maut di Minsel, Sopir Gorontalo Kebut-kebutan hingga Tabrak Pohon
Adik bungsu korban, Reza Mustaki (32), mengungkapkan bahwa kakaknya mengirimkan video berisi doa untuk orang tua disertai permohonan maaf.
“Di hari Jumat itu, kakak kedua kirim video doa untuk orang tua. Kakak yang pertama juga kasih caption mohon maaf ke ibu. Itu jarang sekali terjadi,” ujar Reza, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, momen saling meminta maaf dalam keluarga biasanya hanya terjadi saat Hari Raya Idulfitri. Namun kali ini berbeda.
“Biasanya minta maaf itu hanya saat Lebaran. Tapi ini sebelum kejadian, mereka sudah sampaikan,” tambahnya.
Saat kejadian, Reza bersama ibunya berada di Manado Sulawesi Utara.
Rencana awalnya, ia yang akan pulang ke Gorontalo, namun kondisi kesehatannya tidak memungkinkan karen belum lama alami kecelakaan.
Sehingga kedua sang kakak yang berencana akan ke Manado untuk berkumpul bersama keluarga.
“Karena kaki saya lagi sakit, jadi mereka yang inisiatif datang ke Manado supaya bisa sama-sama Lebaran,” jelasnya.
Pagi hari kejadian, keluarga mulai merasa ada yang tidak biasa karena kedua korban belum juga tiba di waktu yang biasanya.
“Jam 7 pagi biasanya sudah sampai. Tapi belum ada kabar. Saya sempat cek Facebook, tidak ada berita apa-apa,” katanya.
Ia pun sempat kembali beristirahat karena mengira kedua kakaknya masih dalam perjalanan.
Kabar duka baru diterima sekitar pukul 08.30 Wita dari kenalan keluarga yang mendapatkan informasi kecelakaan.
“Begitu dengar, saya langsung konfirmasi. Dari cara orang cerita, saya sudah tahu kondisinya,” ungkap Reza.
Meski terpukul, ia berusaha menenangkan diri dan ibunya. Ia meyakini bahwa kesabaran harus hadir sejak pertama kali menerima kabar buruk.
“Sabar itu di detik pertama saat dengar kabar. Menangis boleh, tapi jangan sampai menyalahkan takdir,” tuturnya.
Reza kemudian berinisiatif untuk segera mengurus kepulangan serta penanganan jenazah kedua kakaknya.
“Yang saya pikirkan saat itu hanya bagaimana bisa cepat ke rumah sakit dan bagaimana urusan jenazah bisa berjalan,” katanya.
Ia bahkan meminta izin kepada keluarga untuk ikut mengurus jenazah bahkan sampai menjadi imam salat jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir.
“Saya bilang ini persembahan terakhir saya untuk mereka. Saya ingin ikut urus sampai salat jenazah,” ujarnya.
Perjalanan yang awalnya untuk berkumpul menjelang Lebaran berubah menjadi duka mendalam.
Kini, pesan terakhir yang dikirimkan korban menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi keluarga.
Pantauan Tribun Gorontalo siang menjelang sore itu nampak karangan bunga ucapan masih berjejeran baik di depan rumah hingga ke pinggiran Jalan Arif Rahman Hakim.
Rumah duka di Kelurahan Wongkaditi Barat Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo masih diselimuti suasana duka bagi keluarga.
Sang ibu korban nampak pada saat itu masih menggunakan mukenah sedangkan adik korban menggunakan kasu oblong begitu juga dengan istrinya masih menggunakan mukenah.
Suasana rumah saat itu terlihat sepi hanya ada kenangan tentang kakak adik yang masih membekas di mata keluarga dan tetangga.(*/Jefri)
| Niat Liburan Bersama Ibu Pupus, ASN Gorontalo Fanny dan Yessi Meninggal Akibat Kecelakaan Mobil |
|
|---|
| Sebelum Kecelakaan Maut di Minsel, Sopir PO Garuda Gorontalo Pernah Alami Tabrakan Ringan |
|
|---|
| 7 Fakta Kecelakaan Maut Kakak Beradik PNS Gorontalo, Panggilan Terakhir Fanni Jadi Sorotan |
|
|---|
| Tangis Guru dan Siswa SMA Negeri 5 Gorontalo Iringi Pemakaman Yessi Sukersi Mustaki |
|
|---|
| Sosok Fanny Anelsia Mustaki bagi Rekan Kerja di Kejati Gorontalo: Orang Riang dan Humble |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.