Ramadan 2026
Kisah Dr Umarulfaruq asal Boalemo Gorontalo, Jadi Pendakwah di Jawa, Kenang Tradisi Tumbilotohe
Kisah Dr Umarulfaruq Abubakar, Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten,pendakwah asal Desa Hungayonaa
Ringkasan Berita:
- Kisah Dr Umarulfaruq Abubakar ,pendakwah asal Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo
- Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia ini kini menjadi pendakwah di Provinsi Jawa Tengah
- Masa kecil Umarulfaruq dihabiskan di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta
TRIBUNGORONTALO.COM - Kisah Dr Umarulfaruq Abubakar, Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten Jawa tengah, pendakwah asal Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo
Pria yang juga menjabat Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia ini kini menjadi pendakwah di Tanah Jawa.
Desa Hungayonaa berada di Ibu Kota Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Jaraknya sekitar 72 kilometer dari Bandara Djalaluddin Gorontalo. Sedangkan jarak dari Ibu Kota Provinsi Gorontalo sekitar 107 kilometer.
Di kampung itu, cahaya Ramadan selalu datang dengan cara yang istimewa. Lampu-lampu minyak dinyalakan pada tiga malam terakhir bulan suci dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkelip di sepanjang jalan, seolah menjadi penanda harapan.
Tumbilotohe adalah tradisi memasang lampu saat 3 malam terakhir Ramadan di Gorontalo. Secara harafiah, tumbilo = pasang, tohe = lampu jadi tumbilotohe berarti menyalakan lampu. Tradisi sejak abad ke-15 ini bertujuan menyambut Lailatul Qadar dan menerangi jalan menuju masjid serta mempererat ikatan sosial.
Setiap keluarga turut berpartisipasi dengan memasang lampu minyak/botol di halaman rumah, jalan, dan lapangan. Kondisi ini menciptakan pemandangan indah, kini menjadi wisata religi.
Kini Dr Umarulfaruq Abubakar menjadi pendakwah di tanah Jawa. Ternyata perjalanan menuju mimbar dakwah tidaklah singkat.
Ia pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.
Cahaya dari Kampung Halaman
Masa kecil Umar dihabiskan di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas. Lantunan Ayat Suci dan nasihat para guru menjadi irama keseharian.
Kini Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta adalah salah satu sekolah swasta terkemuka dan favorit di Provinsi Gorontalo.
“(Masa kecil) dihabiskan di Gorontalo sampai SMA, baru berangkat ke Mesir,” ujar Umarulfaruq saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026).
Tradisi Tumbilotohe menjadi kenangan yang selalu ia bawa. Pada malam ke-27 Ramadan, meski telah jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu sebagai simbol harapan.
Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil.
Mimpi ke Negeri Para Ulama
Di pesantren, Umar kecil bertemu sejumlah guru dari Mesir. Salah satunya adalah Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Suatu hari, ketika usianya sekitar 12 tahun, sang syekh berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.”
Kalimat itu terpatri kuat. Terlebih, ayahnya pernah memiliki mimpi yang sama, tetapi terhalang biaya. Mimpi itu kemudian menjadi amanah keluarga.
Tujuh tahun berselang, ia benar-benar berangkat ke Mesir pada 2003. Pertemuan kembali dengan sang guru menjadi momen haru sekaligus awal ujian perantauan.
Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu ia ingat, agar tidak menangis supaya tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tujuh Lebaran Tanpa Pelukan
Hidup di Mesir bukan perkara mudah. Selama tujuh kali Idulfitri, ia tidak dapat pulang. Komunikasi dengan keluarga masih melalui surat yang balasannya bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Untuk mencukupi kebutuhan, ia bekerja sambil belajar. Ia menjadi petugas kebersihan, membantu pekerjaan di masjid, serta menerjemahkan buku. Semua dilakukan agar tetap dapat bertahan dan melanjutkan studi
“Pengalaman itu membentuk pikiran dan perasaan,” ujarnya.
Ujian terberat datang pada 2005. Dua tahun setelah keberangkatannya, sang ayah wafat. Ia masih mengingat pesan terakhir yang diterimanya, “Selamat belajar, Nak.” Keesokan harinya, kabar duka itu datang. Ia ingin pulang, tetapi terkendala visa dan biaya.
Sejak saat itu, Ramadhan, rindu, dan kehilangan menjadi bagian dari proses pendewasaannya.
Menjaga Sanad dan Menghafal Kalam Ilahi
Bagi Umar, belajar di Mesir bukan sekadar meraih gelar akademik. Ia memanfaatkan kesempatan untuk menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan menempuh sanad qiraat.
Menurutnya, Mesir adalah salah satu pusat keilmuan Al-Qur’an dengan jaringan sanad yang kuat. Proses itu kemudian ia lanjutkan di Indonesia bersama Syekh Abdul Hamid Isa Qurqur Al-Mishri.
Menghafal Al-Qur’an, menurutnya, adalah jalan menuju kebahagiaan batin. Ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan sarana pembersihan jiwa.
Cinta dan Kepulangan
Pada 2011, ia kembali ke Indonesia. Namun, langkahnya tidak langsung menuju Gorontalo. Ia bertolak ke Banjarmasin untuk melamar perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pada 4 Syawal 2011, keduanya resmi menikah.
Kini, di tengah kesibukan sebagai pengajar dan pimpinan lembaga, ia berusaha menyediakan waktu untuk keluarga. Selepas salat Isya, ia memilih berada di rumah, menyimpan telepon genggam, dan bercengkerama dengan anak-anaknya.
Menulis sebagai Warisan
Selain berdakwah, Umar juga menulis. Setidaknya 18 buku telah ia terbitkan. Menulis, baginya, adalah cara merawat gagasan agar tetap hidup.
“Menulis itu bekerja untuk keabadian,” katanya.
Ia ingin ilmu yang dituliskan dapat menjadi warisan manfaat ketika dirinya kelak tiada.
Merawat Batin di Tengah Distraksi
Di era yang serba cepat, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati. Menurutnya, manusia perlu memiliki rasa takut yang melahirkan harapan takut yang menuntun pada perbaikan diri, bukan kecemasan yang melemahkan.
Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebab, ketika sandaran hidup hanya pada uang, kegelisahan mudah tumbuh.
Bagi Umar, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk kembali membersihkan jiwa, mengurangi distraksi, dan meneguhkan tujuan hidup.
Perjalanannya membuktikan bahwa mimbar dakwah tidak selalu dimulai dari panggung yang tinggi. Kadang, ia berawal dari lantai masjid yang disapu dengan sabra dari kerja sunyi seorang perantau yang memelihara mimpi dan menjaga cahaya di dalam hati.
Mengenal Umarulfaruq
- Umarulfaruq merupakan lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan pendiri HafalanQuran.com.
- Ia dikenal sebagai dai kondang dengan khotbah dan ceramah yang inspiratif.
- Lulusan SDN 02 Tilamuta, Al-khairat Tilamuta, dan Madrasah Aliyah Negeri Boalemo.
- Lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, almamater Ust. Abdul Somad dan Ust. Adi Hidayat.
- Founder HafalanQuran.com dan pengisi kajian-kajian Qur'an.
- Selalu membuat naskah khotbah dan ceramah yang dipublikasikan di nidaulquran.id.
- Ketua Forum Maahid dan Madaris Qur'an Indonesia. (Tribun-Video.com/ Nila Irda)
Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Dari Lantai Masjid ke Mimbar Dakwah: Sempat Jadi Cleaning Service di Mesir
Ramadan 2026
Boalemo
Gorontalo
Tumbilotohe
Jawa Tengah
Ramadan 1447 H
Ramadhan
Desa Hungayonaa
Kecamatan tilamuta
Provinsi Gorontalo
| Hikmah Ramadan: Kekuatan Basmalah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar |
|
|---|
| Hikmah Ramadan: Kekuatan Salat Lail Ramadan |
|
|---|
| Wajib Tahu! Ini 5 Golongan yang Boleh Tidak Puasa Ramadhan, Cek Cara Ganti Qadha dan Fidyah |
|
|---|
| Hikmah Ramadan: Keutamaan Shalawat |
|
|---|
| Pasar Senggol Gorontalo Mulai Ramai, Gorden dan Taplak Jadi Buruan Jelang Lebaran |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.