Bank Indonesia
BI Dorong Swasembada dan Hilirisasi Pangan Sulampua, Jagung Jadi Prioritas Strategis
Bank Indonesia (BI) se-wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) memperkuat langkah mendorong swasembada dan hilirisasi pangan
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Foto-bersama-Rakorwil-Bank-Indonesia.jpg)
Riset tersebut menegaskan bahwa jagung memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada pangan nasional karena menjadi komponen utama pakan unggas.
Baca juga: Basir Noho Beberkan Arah Besar Pendidikan Kabupaten Bone Bolango di Podcast TribunGorontalo.com
Secara nasional, Sulampua merupakan produsen jagung terbesar ketiga setelah Jawa dan Sumatera, dengan kontribusi sekitar 13,9 persen produksi nasional.
Provinsi Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah menjadi kontributor utama produksi jagung kawasan.
Meski demikian, rantai nilai jagung di Sulampua masih menghadapi berbagai tantangan.
Di tingkat petani, kendala meliputi keterbatasan lahan, risiko iklim, kualitas produksi, dan akses modal. Sementara di sisi pengepul dan industri, persoalan utama berupa ketidakstabilan pasokan serta kualitas bahan baku yang berdampak pada efisiensi operasional.
Sebagai solusi, riset BI mengidentifikasi lima prioritas strategi penguatan rantai nilai jagung.
Pertama, pembangunan infrastruktur pascapanen terintegrasi seperti dryer dan gudang komunal untuk meningkatkan kualitas dan harga jual.
Kedua, penguatan peran kelompok tani dan gapoktan sebagai aggregator guna memperkuat posisi tawar petani.
Ketiga, peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih hibrida dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Keempat, penguatan kemitraan berbasis kontrak kualitas antara petani dan industri pakan.
Kelima, peningkatan literasi dan kapasitas teknologi pertanian melalui sekolah lapang jagung dan klinik agribisnis.
Melalui rangkaian Rakorwil dan diseminasi riset tersebut, BI berharap rekomendasi kebijakan yang implementatif dapat diterapkan di setiap provinsi di Sulampua.
Upaya ini diharapkan mampu memperkuat swasembada pangan, mempercepat hilirisasi komoditas strategis, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian kawasan. (*)