DPRD Provinsi Gorontalo
Ekonomi Gorontalo Stabil, Tapi Kok Warga Belum Sejahtera? Ini Kata Wakil Ketua DPRD
Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo dari Fraksi NasDem, Ridwan Monoarfa, angkat bicara soal kondisi ekonomi Gorontalo yang kerap disebut stabil
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/EKONOMI-GORONTALO-Wakil-Ketua-DPRD-Provinsi-Gorontalo-Fraksi-Nasdem.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo dari Fraksi NasDem, Ridwan Monoarfa, angkat bicara soal kondisi ekonomi Gorontalo yang kerap disebut stabil, namun belum sepenuhnya dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
Di atas kertas, perekonomian Gorontalo memang menunjukkan indikator yang relatif aman.
Inflasi terkendali, APBD dinilai stabil, dan pertumbuhan ekonomi masih berada dalam tren positif.
Namun di balik angka-angka tersebut, muncul pertanyaan yang kerap disampaikan masyarakat terkait alasan kesejahteraan belum benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Ridwan menilai pertanyaan itu sangat wajar. Menurutnya, Gorontalo sejatinya bukan daerah miskin sumber daya.
Daerah ini memiliki potensi jagung yang melimpah, kekayaan hasil laut, hingga peluang besar pengembangan peternakan sapi potong.
Baca juga: Wabup Boalemo Lahmudin Hambali Pimpin Apel Korpri, Minta WFA Dilaksanakan Bertanggungjawab
Namun hingga kini, manfaat ekonomi dari potensi tersebut belum sepenuhnya dinikmati masyarakat secara luas.
“Masalah utama Gorontalo bukan pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi pada arah kebijakan pembangunan yang belum mampu mengoptimalkan potensi tersebut,” kata Ridwan, Minggu (18/1/2026).
Politisi daerah pemilihan Gorontalo Utara ini mengakui bahwa stabilitas ekonomi merupakan capaian yang patut diapresiasi.
Namun menurutnya, stabilitas seharusnya menjadi pijakan awal untuk perubahan yang lebih besar, bukan sekadar tujuan akhir.
Ia menyoroti struktur ekonomi Gorontalo yang hingga kini masih bertumpu pada penjualan bahan mentah ke luar daerah.
Kondisi ini, kata Ridwan, membuat nilai tambah justru dinikmati wilayah lain.
“Faktanya, ekonomi Gorontalo masih bergantung pada penjualan bahan mentah. Jagung dijual keluar daerah tanpa pengolahan, ikan dijual segar tanpa nilai tambah. Akibatnya, keuntungan besar justru dinikmati daerah lain,” ujarnya.
Situasi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan pelaku usaha di tingkat bawah. Peningkatan produksi tidak selalu sejalan dengan peningkatan pendapatan petani dan nelayan.
Secara makro, ekonomi terlihat stabil, namun dalam realitas sosial, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Untuk mendorong ekonomi bergerak lebih jauh, Ridwan menekankan pentingnya hilirisasi sektor unggulan daerah.
Menurutnya, Gorontalo tidak cukup hanya berperan sebagai daerah penghasil bahan baku.
Ia mencontohkan sektor pertanian dan kelautan yang seharusnya sudah masuk ke tahap pengolahan.
Baca juga: Ini Daftar Alamat Baru Kantor OPD Provinsi Gorontalo Pasca Penyesuaian Januari 2026
Jagung, kata Ridwan, tidak cukup hanya dipanen dan dijual keluar daerah.
“Jagung perlu diolah menjadi pakan ternak di daerah sendiri. Laut yang kaya hasil tangkap harus didukung dengan cold storage dan industri pengolahan ikan,” jelasnya.
Namun dalam praktiknya, hilirisasi kerap berhenti di tataran wacana. Infrastruktur memang mulai tersedia, tetapi ekosistem industri pendukung belum terbentuk secara utuh.
Tanpa arah kebijakan yang konsisten dan jelas, Ridwan khawatir potensi besar Gorontalo akan terus mengalir keluar daerah tanpa memberi nilai tambah signifikan bagi masyarakat lokal.
Selain kebijakan, Ridwan juga menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) serta pemanfaatan teknologi yang tepat guna.
Ia menegaskan bahwa teknologi tidak harus canggih, tetapi harus relevan dengan kebutuhan rakyat.
Sektor peternakan sapi potong menjadi salah satu contoh. Gorontalo memiliki ketersediaan pakan dari jagung serta lahan yang memadai.
Namun pengembangannya masih terbatas karena minimnya dukungan teknologi dan industri pendukung.
Menurut Ridwan, penguatan pendidikan dan keterampilan menjadi faktor kunci agar potensi lokal benar-benar menjadi kekuatan ekonomi.
“Karena itu, pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, dan kerja sama dengan perguruan tinggi harus diperkuat agar potensi lokal tidak hanya menjadi wacana, tetapi betul-betul memberi dampak ekonomi,” ujarnya.
Ridwan menegaskan, pandangan yang ia sampaikan bukan untuk menyalahkan pihak tertentu.
Ia menyadari bahwa pembangunan daerah merupakan proses panjang lintas kepemimpinan. Justru karena itu, konsistensi arah kebijakan menjadi hal yang sangat penting.
Menurutnya, Gorontalo sejatinya telah memiliki modal awal berupa stabilitas ekonomi dan kekayaan sumber daya alam.
Tantangan ke depan adalah memastikan stabilitas tersebut tidak berhenti pada indikator makro semata.
“Tantangannya sekarang adalah mengunci arah pembangunan agar stabilitas tidak berhenti di angka, tetapi benar-benar berubah menjadi kesejahteraan yang dirasakan masyarakat,” tutup Ridwan.
(*)
Ekonomi Gorontalo
Kabar Ekonomi Gorontalo
Profil Ridwan Monoarfa
Ridwan Monoarfa
Provinsi Gorontalo
DPRD Provinsi Gorontalo
| DPRD Provinsi Gorontalo Tetap Ngebut Rapat hingga Siapkan Paripurna LKP di Momen Ramadan |
|
|---|
| DPRD Gorontalo dan Pemkab Bone Bolango Bahas Infrastruktur, Bencana, dan Anggaran |
|
|---|
| DPRD Gorontalo Konsultasi ke Kemendagri terkait HUT Provinsi hingga Isu Danau Limboto |
|
|---|
| Sebelum Dilantik PAW, Dedy Hamzah Ternyata Sempat Bertemu Wahyudin Moridu, Bahas Apa? |
|
|---|
| Breaking News! Dedy Hamzah Resmi Dilantik Jadi Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Gantikan Wahyudin |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.